𝘼𝙠𝙪 𝙈𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙏𝙧𝙖𝙪𝙢𝙖𝙠𝙪
Di sudut ingatan yang tak pernah benar-benar gelap, Ada kotak yang kusimpan rapat, namun tak pernah kukunci. Isinya bukan perhiasan, bukan pula surat-surat manis, Melainkan pecahan kaca dari masa yang membuatku menangis. Dulu, aku sibuk berlari dari bayang-bayang sendiri, Menganggap luka adalah cacat yang harus segera mati. Namun semakin jauh aku melangkah, Gemetarnya tetap terasa, detaknya tetap pecah. Kini, aku memilih untuk berhenti, Duduk bersimpuh di hadapan duka yang paling sunyi. Kuulurkan tangan pada trauma yang dulu kutakuti, Kusapa ia seperti kawan lama yang kembali ke hati. Ternyata, luka itu tidak hanya membawa perih, Ia adalah guru yang mengajariku cara berdiri saat letih. Ia adalah guratan yang membuat jiwaku tak lagi hampa, Membentuk lekuk kepribadian yang kini kupunya. Tak perlu lagi ada paksaan untuk tertawa lebar, Jika memang jiwaku butuh waktu untuk bersabar. Setiap sayatan, setiap memar yang membiru di ingatan, Kuterima sebagai bagian dari peta menuju kedewasaan. Ak...