πππππ-πππππ
πππππ-πππππ
Barangkali, kita adalah dua warna yang dipaksa oleh semesta untuk menetap di satu kanvas yang sama. Namun, sedalam apa pun kuas rindu menyapu, kita tetaplah dua kutub yang enggan menyatu.
Aku adalah pekat yang paling sunyi,
tempat segala duka bersembunyi tanpa sempat kau kenali.
Jika aku adalah hitam yang menyerap seluruh cahaya,
maka kau adalah putih yang memantulkan segala binar di mata.
Aku ini malam yang keras kepala,
yang betah memeluk sepi di bawah langit yang tua.
Sedangkan kau adalah pagi yang membawa tawa,
menyapa dunia dengan hangat yang tak pernah bisa kupunya.
Langkahku seringkali tersesat di antara bayang-bayang,
meraba jalan di sela-sela harapan yang mulai lekang.
Namun kau, kau adalah benderang yang selalu tahu jalan pulang,
menjadi titik paling terang saat aku mulai merasa hilang.
Kita ini kontradiksi yang paling abadi, Sayang.
Seperti tinta gelap di atas kertas yang bersih,
kehadiranku mungkin hanya akan mengotori ketulusanmu yang ratih.
Aku terlalu banyak menyimpan rahasia di balik gelap,
sementara kau begitu jujur, sejujur embun yang hinggap tanpa sempat mendekap.
Lantas, harus di persimpangan mana kita akan bertemu?
Jika setiap kali aku mencoba mendekat,
putihmu seolah mengingatkanku betapa kelamnya duniaku yang terpahat.
Kita berdiri di garis yang sama, namun dengan arah yang berbeda.
Aku yang mencintaimu dengan cara yang paling redup,
dan kau yang menyayangiku dengan binar yang tak pernah tutup.
Pada akhirnya, kita hanyalah sepasang hitam dan putih.
Indah saat dipandang dari kejauhan,
namun saling menyakiti saat dipaksa bersentuhan.
Aku tetaplah aku dengan segala jelaga di dada,
dan kau tetaplah kau, kemurnian yang tak seharusnya terjamah oleh duka.
Bogor, 25-3-26
Abad.i
Komentar
Posting Komentar