𝗧𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴 𝗻𝗮𝗺𝘂𝗻 𝗠𝗲𝗻𝘆𝗶𝗺𝗽𝗮𝗻 𝗦𝗲𝘀𝗮𝗸
𝗧𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴 𝗻𝗮𝗺𝘂𝗻 𝗠𝗲𝗻𝘆𝗶𝗺𝗽𝗮𝗻 𝗦𝗲𝘀𝗮𝗸 Aku adalah reruntuhan yang keras kepala. Mengubur puing-puing masa lalu di balik dada yang kusita dari segala bentuk rasa. Setelah badai yang lampau sukses mematahkan seluruh sauh, aku berjanji pada sepi untuk tidak lagi melabuhkan hati pada dermaga yang asing. Bagiku, trauma adalah benteng, dan kesendirian adalah bentala paling aman untuk merayakan kehilangan. Lalu, semesta mempertemukan aku dengan ketukanmu. Kau datang membawa keteduhan, menyuguhkan senyum yang perlahan mengikis curiga. Jemarimu dengan lancang menenun kembali benang-benang harapan yang sempat kusangka telah putus asa. Demi malam yang menyaksikan segala rapuhku, ketraumaan yang kusuburkan bertahun-tahun, kini mulai goyah hanya karena hadirmu yang menawarkan utuh. Aku yang semula pongah dengan kesendirian, mendadak luluh pada bait-bait perhatian yang kau gubah setiap malam. Namun, mengapa panggung ini kembali dipenuhi bimbang? Mengapa skenario yang kaubuat kini...