π˜Όπ™ π™ͺ π™ˆπ™šπ™£π™˜π™žπ™£π™©π™–π™ž 𝙏𝙧𝙖π™ͺ𝙒𝙖𝙠π™ͺ


Di sudut ingatan yang tak pernah benar-benar gelap,

Ada kotak yang kusimpan rapat, namun tak pernah kukunci.

Isinya bukan perhiasan, bukan pula surat-surat manis,

Melainkan pecahan kaca dari masa yang membuatku menangis.


Dulu, aku sibuk berlari dari bayang-bayang sendiri,

Menganggap luka adalah cacat yang harus segera mati.

Namun semakin jauh aku melangkah,

Gemetarnya tetap terasa, detaknya tetap pecah.


Kini, aku memilih untuk berhenti,

Duduk bersimpuh di hadapan duka yang paling sunyi.

Kuulurkan tangan pada trauma yang dulu kutakuti,

Kusapa ia seperti kawan lama yang kembali ke hati.


Ternyata, luka itu tidak hanya membawa perih,

Ia adalah guru yang mengajariku cara berdiri saat letih.

Ia adalah guratan yang membuat jiwaku tak lagi hampa,

Membentuk lekuk kepribadian yang kini kupunya.


Tak perlu lagi ada paksaan untuk tertawa lebar,

Jika memang jiwaku butuh waktu untuk bersabar.

Setiap sayatan, setiap memar yang membiru di ingatan,

Kuterima sebagai bagian dari peta menuju kedewasaan.


Aku mencintai traumaku,

Bukan karena aku memuja rasa sakit yang lalu,

Tapi karena tanpa dia, aku takkan mengerti,

Betapa kuatnya aku saat harus menyembuhkan diri sendiri.


Terima kasih masa lalu, atas segala hantaman yang keras,

Kini aku melangkah dengan nafas yang jauh lebih bebas.

Biarlah ia menari-nari dalam pikiran yang tenang,

Sebagai bukti bahwa aku adalah pemenang yang pulang dari perang.


π™±πš˜πšπš˜πš› 18/4/26

π™°πš‹πšŠπš.πš’


Komentar

Postingan populer dari blog ini

π™·πšŠπš’, π™³πšŽπšœπšŽπš–πš‹πšŽπš›.

Terimakasih Desember