๐—ง๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ป๐—ฎ๐—บ๐˜‚๐—ป ๐— ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ถ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ธ

 ๐—ง๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ป๐—ฎ๐—บ๐˜‚๐—ป ๐— ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ถ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ธ


Aku adalah reruntuhan yang keras kepala. Mengubur puing-puing masa lalu di balik dada yang kusita dari segala bentuk rasa. Setelah badai yang lampau sukses mematahkan seluruh sauh, aku berjanji pada sepi untuk tidak lagi melabuhkan hati pada dermaga yang asing. Bagiku, trauma adalah benteng, dan kesendirian adalah bentala paling aman untuk merayakan kehilangan.


Lalu, semesta mempertemukan aku dengan ketukanmu.


Kau datang membawa keteduhan, menyuguhkan senyum yang perlahan mengikis curiga. Jemarimu dengan lancang menenun kembali benang-benang harapan yang sempat kusangka telah putus asa. Demi malam yang menyaksikan segala rapuhku, ketraumaan yang kusuburkan bertahun-tahun, kini mulai goyah hanya karena hadirmu yang menawarkan utuh. Aku yang semula pongah dengan kesendirian, mendadak luluh pada bait-bait perhatian yang kau gubah setiap malam.


Namun, mengapa panggung ini kembali dipenuhi bimbang?

Mengapa skenario yang kaubuat kini mulai kehilangan arah pulang?


Sikapmu belakangan ini laksana senja; indah di awal, namun perlahan menyerahkannya pada kegelapan. Kau menjauh tanpa aba-aba, meninggalkan aku yang terlanjur melangkah keluar dari zona aman. Aku terjebak di persimpangan yang paling jahanam. Mempertanyakan apakah kehadiranmu adalah obat penawar, atau justru racun baru yang dikemas dalam bentuk kesembuhan.


Dada ini telanjur patah sebelum sempat seutuhnya merekah.

Setengah hatiku ingin memeluk egomu, memercayai bahwa ini hanyalah jeda sebelum kita melangkah lebih jauh. Namun, sisa jiwaku yang rasional berteriak lantang; mengingatkan bahwa rasa sakit yang dulu, bermula dari kenyamanan yang polanya persis seperti ini.


Kau membuatku goyah, lalu membiarkanku goyah sendirian di tepi jurang.


Jika pada akhirnya kau memilih untuk menjadi asing, mengapa harus repot-repet mengajari aku cara mengeja kembali arti pendamping? Kini, dengan hati yang remuk redam, aku dipaksa menyaksikan benteng traumaku runtuh bukan karena berhasil kau sembuhkan, melainkan karena telanjur kau hancurkan untuk kedua kalinya.


Ternyata, babak paling menyedihkan dari sebuah kepasrahan adalah: ketika aku sudah menurunkan semua senjata untuk menerimamu, kau justru menarik pelatuknya tepat di ulu hatiku.


Aku kembali patah, di tempat yang sama, dengan kebodohan yang serupa.



ส™แดœษชแด›แด‡ษดแดขแดส€ษข. ๐Ÿท๐Ÿพ๐Ÿถ๐Ÿป๐Ÿธ๐Ÿผ

แด€ส™แด€แด….ษช

Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐™ท๐šŠ๐š’, ๐™ณ๐šŽ๐šœ๐šŽ๐š–๐š‹๐šŽ๐š›.

Terimakasih Desember