πππ§πππ§π ππ’ππ yg πππ«π£ππ©π’π di ππ§πππ«π ππ§π π€π dan ππ¨π π’π€π.
πππ§πππ§π ππ’ππ yg πππ«π£ππ©π’π di ππ§πππ«π ππ§π π€π dan ππ¨π π’π€π.
Semesta memang senang bercanda dengan cara yang paling tidak lucu.
Ia mempertemukan dua jiwa yang sama-sama sedang mencari pegangan,
di saat badai di dalam kepala kita masing-masing belum benar-benar reda.
Kita bertemu seperti dua orang yang terengah-engah ketika lari maraton;
haus akan afeksi, namun paru-paru kita masih penuh dengan sisa sesak dari masa lalu.
Dimana aku yang masih sibuk menambal lubang di dada,
dan kau yang masih gemetar memegang serpihan percaya yang baru saja dihancurkan.
Kita mencoba memaksakan sebuah "kita" di atas pondasi yang masih basah.
Mencoba membangun atap, padahal dinding-dinding kita masih retak dimakan trauma.
Kau ingin aku menjadi penawar, padahal aku sendiri masih butuh disembuhkan.
Aku ingin kau menjadi tempat pulang, padahal kau sendiri masih tersesat mencari jalan.
Kita adalah dua frekuensi yang ingin selaras,
namun terganggu oleh bisingnya kenangan yang belum sempat kita beri ucapan selamat tinggal.
"Jangan pergi," katamu dalam diam yang paling riuh.
Tapi bagaimana aku bisa menetap, jika kehadiranku hanya membuat lukamu semakin menganga?
Kita terlalu terburu-buru menyeduh rasa, hingga lidah kita melepuh oleh ekspektasi.
Ternyata, cinta saja tidak pernah cukup untuk menjadi alasan sebuah hubungan bisa berdiri tegak.
Ada hal bernama "kesiapan" yang seringkali kita abaikan demi ego yang haus akan kehadiran seseorang.
Kita mencintai orang yang benar, namun di saat yang benar-benar tidak tepat.
Pergi bukan berarti aku sudah berhenti peduli.
Melepaskan genggaman ini adalah caraku untuk menjagamu agar tidak semakin hancur bersamaku.
Kita butuh ruang untuk masing-masing tumbuh, bukan untuk saling meneduh di bawah payung yang sudah patah.
Biarkan aku berdamai dengan bayang-bayangku,
dan biarkan kau menemukan kembali binar di matamu tanpa perlu merasa terbebani oleh kesedihanku.
Karena jika kita terus memaksakan diri untuk berjalan beriringan,
kita hanya akan berakhir menjadi dua orang asing yang saling menyakiti dengan niat-niat yang baik.
Maka, biarlah kalender ini mencatat bahwa kita pernah ada, namun tidak untuk selamanya.
Biarlah waktu yang menjadi hakim atas segala rasa yang belum sempat tuntas ini.
Jangan salahkan dirimu, jangan pula salahkan aku.
Salahkanlah waktu yang mempertemukan kita di saat kita belum selesai dengan diri sendiri.
Suatu saat nanti, jika semesta kembali berbaik hati dan luka kita sudah menjadi sekadar garis tipis yang tak lagi perih,
mungkin kita bisa bertemu kembali di sebuah kedai kopi,
bukan sebagai dua orang yang butuh diselamatkan,
melainkan sebagai dua manusia yang sudah utuh dan siap untuk saling membahagiakan.
Untuk sekarang, biarlah kita menjadi kenangan yang paling indah,
yang harus diakhiri demi kebaikan yang lebih besar.
"Selamat berproses dan
Sampai bertemu di waktu yang tidak lagi salah."
~~~
π±ππππ. 12/5/26
π°πππ.π
Komentar
Posting Komentar