๐Œ๐š๐ง๐ข๐Ÿ๐ž๐ฌ ๐๐ž๐ง๐ฎ๐ฆ๐ฉ๐š๐ง๐  ๐“๐ž๐ซ๐š๐ค๐ก๐ข๐ซ

 ๐Œ๐š๐ง๐ข๐Ÿ๐ž๐ฌ ๐๐ž๐ง๐ฎ๐ฆ๐ฉ๐š๐ง๐  ๐“๐ž๐ซ๐š๐ค๐ก๐ข๐ซ


Di dunia yang serba cepat ini, aku belajar bahwa tidak semua yang berangkat akan sampai, dan tidak semua yang berjanji akan menepati. Hari ini, garis finis itu terlihat jelas. Kau berdiri di sana, menggenggam tangan seseorang yang barangkali namanya tak pernah kusebut dalam doa, namun namanya kini menjadi penutup bab dalam buku hidupmu.


Selamat. Kau sudah menang.

Kau mendapatkan sosok yang lebih dari sekadar "cukup".

Seseorang yang tidak perlu berjuang sekeras aku hanya untuk membuatmu tersenyum.

Seseorang yang barangkali memiliki peta yang lebih jelas, bukan sekadar kompas rusak yang kupunya.


Kapalku sudah karam

Papan-papan kayunya mulai hancur dihantam kenyataan bahwa aku bukan lagi tujuanmu.

Dulu, aku percaya bahwa cinta adalah tentang bertahan di tengah badai.

Aku bertahan, aku menambal tiap kebocoran dengan sisa-sisa harapanku,

namun kau justru memilih melompat ke sekoci lain yang lebih menjanjikan ketenangan.



Sekarang, lihatlah aku.

Aku sedang tenggelam, perlahan tapi pasti.

Air laut mulai memenuhi paru-paruku, sesak oleh kata-kata yang tak sempat terucap.

Lucu melihatmu dari bawah sini; kau terlihat begitu terang, begitu bahagia.

Ternyata benar, kau memang bunga yang indah, hanya saja tanahku terlalu gersang untuk membuatmu tetap mekar.


Dia adalah segalanya yang aku cita-citakan namun gagal kuwujudkan:


 Dia adalah Kepastian, saat aku hanyalah Kemungkinan. 

 Dia adalah rumah yang kokoh, saat aku hanyalah tenda darurat di pinggir jalanan.

 Dia adalah puisi yang rapi, saat aku hanyalah coretan penuh tip-ex yang berantakan.


 "๐™บ๐š’๐š๐šŠ ๐šŠ๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š‘ ๐š๐šž๐šŠ ๐š˜๐š›๐šŠ๐š—๐š ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š™๐šŽ๐š›๐š—๐šŠ๐š‘ ๐š‹๐šŽ๐š›๐š‹๐šŠ๐š๐š’ ๐š›๐šŠ๐š‘๐šŠ๐šœ๐š’๐šŠ ๐š™๐šŠ๐š๐šŠ ๐š‹๐š’๐š—๐š๐šŠ๐š—๐š, ๐š—๐šŠ๐š–๐šž๐š— ๐š”๐š’๐š—๐š’ ๐š”๐šŠ๐šž ๐š•๐šŽ๐š‹๐š’๐š‘ ๐š–๐šŽ๐š–๐š’๐š•๐š’๐š‘ ๐š–๐šŽ๐š—๐š“๐šŠ๐š๐š’ ๐š–๐šŠ๐š๐šŠ๐š‘๐šŠ๐š›๐š’ ๐š‹๐šŠ๐š๐š’ ๐š˜๐š›๐šŠ๐š—๐š ๐š•๐šŠ๐š’๐š—, ๐š–๐šŽ๐š—๐š’๐š—๐š๐š๐šŠ๐š•๐š”๐šŠ๐š—๐š”๐šž ๐š–๐šŽ๐š–๐š‹๐šŽ๐š”๐šž ๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š– ๐š–๐šŠ๐š•๐šŠ๐š– ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š๐šŠ๐š” ๐š‹๐šŽ๐š›๐šž๐š“๐šž๐š—๐š."



Haruskah aku marah?

Tidak. Kemarahan hanya akan membuatku terlihat semakin menyedihkan.

Aku hanya sedikit kecewa pada diriku sendiri, karena pernah mengira bahwa ketulusan saja cukup untuk membuat seseorang menetap.

Nyatanya, dunia ini tidak berjalan hanya dengan modal perasaan.

Logika butuh sandaran, dan dia memberikanmu tiang yang lebih kuat dari pundakku yang mulai rapuh.


Kapalku kini bersemayam di dasar laut yang paling dalam.

Menjadi tempat bagi ikan-ikan kecil dan terumbu karang yang tumbuh dari sisa air mataku.

Jangan khawatir, aku tidak akan memintamu kembali.

Sebab aku tahu, memintamu kembali sama saja dengan memaksamu untuk ikut tenggelam bersamaku.


Dan kau terlalu berharga untuk hancur.



Pergilah.

Jelajahi samudera baru itu dengan kapal barumu yang jauh lebih megah.

Nikmati hidangan yang lebih mewah, dan tidurlah di kabin yang lebih nyaman.

Lupakan nakhoda payah yang pernah menjanjikanmu pelangi namun malah memberimu gerimis yang tak kunjung usai.


Kau sudah menang.

Kau mendapatkan orang yang lebih dari aku.

Dan kemenanganku adalah... aku pernah menjadi bagian dari perjalananmu, sebelum akhirnya kau menemukan tujuan yang sesungguhnya.


๐—•๐—ถ๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฎ๐—ธ๐˜‚ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ, 

๐—•๐—ถ๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฎ๐—ธ๐˜‚ ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด, 

Sebab terkadang, mencintai secara luar biasa berarti harus bersedia melepaskan dengan cara yang paling rahasia.


~~~

๐”…๐”ฌ๐”ค๐”ฌ๐”ฏ, 9/5/26

๐•ฌ๐–‡๐–†๐–‰.๐–Ž

Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐™ท๐šŠ๐š’, ๐™ณ๐šŽ๐šœ๐šŽ๐š–๐š‹๐šŽ๐š›.

Terimakasih Desember