๐๐ก๐๐๐ ๐๐๐ฅ๐๐ง๐ฉ๐๐๐ ๐๐ฎ๐๐ฌ๐๐ก : " ๐๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐จ ๐๐๐ ๐๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ถ
๐๐ก๐๐๐ ๐๐๐ฅ๐๐ง๐ฉ๐๐๐ ๐๐ฎ๐๐ฌ๐๐ก : " ๐๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐จ ๐๐๐ ๐๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ถ
สแดษขแดส, ๐ธ๐ถ/๐ถ๐น/๐ธ๐ผ
๐๐๐๐.๐
Di ambang Idulfitri yang kian pucat, aku tersungkur pada takbir yang parau.
Ia tak lagi membawa kabar kemenangan, melainkan sebentuk lara yang memar.
Aku telah merapikan rindu, melipat jarak dalam koper-koper penuh tunggu,
namun mengapa, Ayah, kau justru memilih jalan pulang yang lebih dulu?
Di perantauan ini, aku sempat menyusun kalimat sungkem yang paling khidmat,
membayangkan punggung tanganmu yang kasar akan kukecup dengan lekat.
Namun di sela deru mesin yang seharusnya membawaku ke depan pagar,
kabar itu datang seperti petir yang merubuhkan seluruh tiang sabar.
"๐ฟ๐๐,,, ๐๐๐๐๐-๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐... ๐ฑ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐."
Namun hari ini, kekuatan itu hanyalah debu yang tersapu angin di pelataran makam yang pekat.
Mengapa kau terburu-buru mengetuk pintu langit sebelum aku sempat membuka pintu rumahmu?
Mengapa kau memilih beristirahat di bawah nisan, saat aku baru saja ingin mengadu?
Aku menatap kursi kayu di ruang tamu yang kini benar-benar mendingin,
di sana, ๐๐๐๐ข๐ ada sisa aroma kopi dan gema suaramu yang ditiup angin.
Dahulu, meja makan ini adalah alasan aku ingin bergegas pulang,
kini, ia hanyalah sebuah altar sunyi tempat duka ini mengerang.
Maafkan aku, yang terlambat selangkah dari takdir yang kau jalani,
saat "Selamat Hari Raya" kini hanya bisa kuucapkan pada tanah yang sunyi.
Sebab di sini, Idulfitri hanyalah sebuah elegi yang tak kunjung usai,
tanpa pelukmu yang hangat, tanpa doa yang biasanya kau untai.
Biarlah sisa hidupku kuhabiskan dengan merawat nisanmu sebagai satu-satunya dermaga,
tempat rinduku berlabuh meski tak lagi ada suara yang menyapa.
Sebab mencintaimu dalam ketiadaan adalah ibadah yang paling tabah,
di bawah langit hari raya yang kini kehilangan cahayanya, pasrah.
Komentar
Posting Komentar