๐˜›๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜จ ๐˜›๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜š๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช

๐˜›๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜จ ๐˜›๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜š๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช

(Sadrah) 


Barangkali benar, ada beberapa orang yang diciptakan hanya untuk menjadi tamu dalam ingatan, bukan penghuni tetap dalam kenyataan. Kita pernah begitu gigih menyusun rencana-rencana besar di atas meja makan, membicarakan warna cat dinding rumah masa depan, seolah-olah waktu adalah milik kita sepenuhnya. Kita lupa, bahwa di atas naskah yang kita tulis dengan tinta tawa, ada takdir yang sedang bersiap menghapusnya dengan air mata.


Kini, aku berdiri di depan pintu yang dulu sering kau ketuk. Namun kali ini, pintunya tidak terkunci, hanya saja kau yang tidak lagi punya keinginan untuk masuk. Aku menyadari satu hal yang paling menyakitkan: rumah ini masih sama, namun kau telah menemukan alamat yang lebih menjanjikan.



Aku sedang belajar tentang kata **Sadrah**. Sebuah kata yang terdengar begitu pasrah, namun di dalamnya terdapat ledakan amarah yang sudah padam menjadi abu. Menjadi sadrah berarti aku berhenti bertengkar dengan kenyataan. Aku berhenti bertanya kepada Tuhan tentang mengapa harus kita yang dipisahkan, atau mengapa harus luka yang menjadi bayaran untuk setiap tawa yang pernah kita tukarkan.


Mencintaimu ternyata adalah sebuah perjalanan menuju kehilangan diri sendiri. Aku terlalu sibuk membangun jembatan menuju hatimu, sampai aku lupa bahwa jembatan itu hanya kokoh di sisiku, sementara di sisimu, kau sudah lama meruntuhkannya demi membangun dermaga untuk kapal yang lain.



"Bila ini memang akhirnya..."

Kalimat itu menggantung di udara seperti asap rokok yang enggan hilang. Aku melihatmu menjauh, dan untuk pertama kalinya, aku tidak memanggil namamu. Bukan karena aku sudah benci, tapi karena aku tahu suaraku hanya akan menjadi bising yang mengganggu ketenangan jalan barumu. 


Aku melepasmu bukan karena aku menyerah kalah pada keadaan, tapi karena aku sadar bahwa menggenggam bara api terlalu lama hanya akan membuat tanganku cacat untuk bersalaman dengan kebahagiaan yang lain. Aku membiarkanmu pergi agar kau tidak perlu merasa bersalah setiap kali melihat mataku. Aku ingin kau bebas, meski kebebasanmu adalah penjara paling sepi bagiku.



Di kemudian hari, jika kau tak sengaja mendengar lagu kita diputar di radio sebuah kafe saat hujan turun, jangan merasa sedih. Ingatlah bahwa pernah ada seseorang yang mencintaimu dengan begitu "sadrah". Seseorang yang rela menjadi tanah agar kau bisa tumbuh, meski setelah kau mekar, kau lebih memilih dipetik dan dipajang di vas bunga milik orang lain.


Luka ini tidak akan kubuang. Akan kusimpan baik-baik di sudut lemari paling gelap. Bukan untuk diratapi, tapi sebagai pengingat bahwa aku pernah seberani itu dalam mencintai. Bahwa aku pernah menjadi manusia yang paling ikhlas kehilangan, saat dunia memaksaku untuk terus mempertahankan.



Maka, pergilah. Cari apa yang tidak kau temukan padaku. Temukan pelukan yang lebih hangat dari jaket tua yang sering kupinjamkan. Aku akan tetap di sini, menyelesaikan sisa kopi yang mulai dingin, sambil memperhatikan punggungmu yang perlahan hilang ditelan tikungan jalan.


Aku sudah sampai pada kesimpulan paling akhir:

Bahwa mencintaimu adalah ibadah yang paling sunyi,

dan melepaskanmu adalah doa yang paling tulus yang pernah kupunya.


Selamat jalan,

Aku telah sadrah pada takdir yang tidak pernah mengizinkan kita untuk menua bersama.


ส™แดษขแดส€, ๐Ÿท๐Ÿผ/๐Ÿบ/๐Ÿธ๐Ÿผ

แด€ส™แด€แด…ษช



Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐™ท๐šŠ๐š’, ๐™ณ๐šŽ๐šœ๐šŽ๐š–๐š‹๐šŽ๐š›.

Terimakasih Desember