๐—ฆ๐—ถ๐˜€๐—ฎ ๐—ก๐—ฎ๐—ณ๐—ฎ๐˜€-๐—บ๐˜‚ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฆ๐˜‚๐—ฑ๐˜‚๐˜ ๐—๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป


Malam ini, Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya perasaanku yang mulai kehilangan kehangatannya. Aku menyusuri trotoar yang dulu sering kita tapaki bersama. Lampu-lampu jalan masih berpijar dengan warna kuning temaram yang sama, riuh klakson kendaraan pun belum berubah, namun ada sesuatu yang janggal. Sesuatu yang hilang di antara celah-celah gedung tinggi ini.


Ternyata, kota ini benar-benar tak sama tanpamu.


Aku melewati kedai kopi kecil di sudut blok, tempat kita menghabiskan berjam-jam hanya untuk menertawakan hal-hal sepele yang kini terasa begitu berharga. Aku menatap kursi kosong di pojok ruangan itu, dan sekejap bayanganmu muncul—tersenyum tipis dengan segelas kopi di tangan. Namun, saat aku mengerjapkan mata, bayangan itu buyar, menyisakan kekosongan yang menyesakkan dada.


Dulu, kota ini adalah taman bermain kita. Setiap sudutnya memiliki cerita; setiap jalannya menyimpan tawa kita. Sekarang, setiap tempat yang aku kunjungi justru berubah menjadi monumen kesedihan. Aku terjebak dalam labirin kenangan yang aku bangun sendiri. Aku mencoba mencari wajahmu di antara kerumunan orang di stasiun, berharap takdir sedang berbaik hati dan mempertemukan kita kembali secara tidak sengaja. Namun, realita selalu lebih jujur daripada harapan: kamu sudah tidak di sini.


"Bagaimana cara menikmati riuhnya dunia, jika detak jantung yang paling menenangkan itu kini sudah jauh melangkah?"


Aku terus berjalan, membiarkan angin malam menyapu wajahku. Aku menyadari bahwa bukan kotanya yang berubah. Aspal ini masih sama, langitnya pun masih menggantung di tempat yang sama. Yang berubah adalah caraku melihatnya. Tanpamu, warna kota ini memudar menjadi abu-abu.


Aku masih di sini, mencoba terbiasa dengan keheningan yang kamu tinggalkan. Belajar mencintai kota ini kembali, meski tanpa kehadiranmu yang pernah membuatnya terasa seperti rumah.


Bogor. 9/2/26

Abad.i




"Kota ini tidak pernah berubah, hanya saja ia kehilangan pemandangan terbaiknya: yaitu kamu. Namun, hidup-ku tetap harus berjalan, meski dengan langkah yang sedikit lebih berat di atas aspal yang penuh kenangan."

#Abad.i (11.10)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐™ท๐šŠ๐š’, ๐™ณ๐šŽ๐šœ๐šŽ๐š–๐š‹๐šŽ๐š›.

Terimakasih Desember