Maaf, Aku masih Betah di Lukamu


Orang-orang bilang, rumah adalah tempat paling nyaman untuk pulang.

Tapi bagiku, rumah itu sudah lama runtuh sejak kau memilih hilang.

Kini, satu-satunya tempat yang paling akrab dengan punggungku adalah luka ini.

Ruang gelap yang sengaja tak kuberi lampu,

agar aku bisa terus melihat bayangmu dengan jelas di dinding sepi.


Maaf, jika aku belum juga beranjak.

Aku hanya belum siap menghadapi dunia yang tak lagi memiliki jejakmu di setiap pijak.



Aku tahu, menetap di sini artinya membiarkan diriku terus berdarah.

Mengulang-ulang rekaman perpisahan yang membuat hatiku patah.

Tapi kau tahu? Di dalam luka ini, suaramu masih terdengar utuh.

Di dalam perih ini, aku merasa kita belum benar-benar jauh.


Aku seperti orang asing yang sengaja memelihara duri di telapak tangan,

hanya agar aku punya alasan untuk tetap mengingat siapa yang dulu memberikan pelukan.



Maaf, jika aku masih mencintaimu dengan cara yang paling menyiksa diri.

Menolak sembuh, karena takut kehilangan satu-satunya hal yang tersisa dari kita: rasa perih ini.

Jika aku pulih, aku takut aku akan benar-benar kehilanganmu.

Jika lukanya menutup, aku khawatir tak ada lagi celah untuk kumasuki kenanganmu.


Maka biarlah aku tetap di sini, menjadi penghuni setia di sudut nestapa.

Sebab lebih baik sakit bersamamu, daripada sehat namun harus lupa segalanya.



Jangan memintaku untuk segera pergi atau mencari pengganti.

Sebab pelabuhanmu sudah jauh, sementara kapalku sudah lama mati.

Maaf, jika aku masih belum bisa melupakanmu hingga detik ini.

Aku hanya sedang menikmati sisa-sisa kehancuran,

di dalam luka yang kau buat, aku justru menemukan rumah yang paling abadi.


π˜‰π˜°π˜¨π˜°π˜³ 03/2/26

𝘈𝘣𝘒π˜₯.π˜ͺ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

π™·πšŠπš’, π™³πšŽπšœπšŽπš–πš‹πšŽπš›.

Terimakasih Desember