๐ ๐ฎ๐ธ๐ป๐ฎ ๐บ๐ฒ๐น๐ฎ๐๐ถ-๐ธ๐
"Malam ini... bulan kelihatan lebih pucat dari biasanya. Persis seperti hatiku sejak kamu mutusin buat pergi."
"๐๐ธ๐ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ ๐ฑ๐ถ ๐๐ถ๐ป๐ถ, ๐ฑ๐ถ ๐ฑ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐๐ป๐ด๐ฎ ๐บ๐ฒ๐น๐ฎ๐๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐๐น๐ ๐ธ๐ถ๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ฎ๐บ ๐ฏ๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ป๐ด-๐ฏ๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ป๐ด. ๐๐ฎ๐บ๐ ๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐? ๐๐๐น๐ ๐ฏ๐๐ป๐ด๐ฎ๐ป๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ด๐ฎ๐ฟ ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด๐ฒ๐, ๐๐ฒ๐ฝ๐๐๐ถ๐ต ๐ท๐ฎ๐ป๐ท๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ป๐ฎ๐ต ๐ธ๐ฎ๐บ๐ ๐๐ฐ๐ฎ๐ฝ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ ๐ฎ๐ธ๐."
"Tapi sekarang? Melati ini layu. Kelopaknya gugur satu-satu, persis kayak harapanku yang mulai patah. Harumnya masih ada, tapi rasanya sekarang malah bikin sesak."
"Oh, Melati... tolong sampaikan ya. Bilang ke dia kalau rinduku ini nggak pernah ada ujungnya. Bilang kalau rumah ini kerasa sepi banget tanpa ketawanya dia."
"Kenapa harus secepat ini sih? Kamu pergi ninggalin luka yang bahkan aku sendiri nggak tahu gimana cara nyembuhinnya. Sekarang, cuma doa yang bisa aku kirim lewat angin malam."
"Tunggu aku ya... Sampai nanti kita ketemu lagi di sana. Di tempat yang nggak akan pernah ada kata pisah."
๐๐ผ๐ด๐ผ๐ฟ. ๐ญ๐ฌ/๐ฎ/๐ฎ๐ฒ
๐๐ฏ๐ฎ๐ฑ.๐ถ
Komentar
Posting Komentar