Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025
 BlΓΆdsinn ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ πŸ‘§ :  Di tengah keramaian yang tak pernah henti,   Kau melangkah, terjebak dalam dunia sendiri,   Seperti kacang yang melupakan kulitnya,   Mengabaikan akar yang mengikatnya pada bumi.   Kau terbang tinggi, menjelajahi angkasa,   Namun, di mana jejakmu yang pernah ada?   Kau berlari mengejar mimpi yang berkilau,   Sementara aku terperangkap dalam kesunyian yang kelam. πŸ‘¦: Ah, aku hanyalah bayang-bayang di sudut,   Menyaksikan langkahmu yang penuh semangat,   Kau berlari mengejar bintang-bintang yang kau ciptakan,   Sementara aku terperangkap dalam kesunyian yang kelam.   Kau sibuk dengan dunia yang kau bangun,   Lupa bahwa di bawah, ada hati yang menanti.   Setiap detik yang kau habiskan jauh dariku,   Adalah waktu yang mengikis kenangan kita. πŸ‘§ : Tapi, lihatlah, dunia ini begitu luas, ...

Bayang-bayang & kenangan#1

Nina: Raka... sudah lama kita tak bertemu. Raka: iya, Nin..  Tapi entah mengapa hatiku masih terasa berat saat melihatmu. Nina: Aku pun merasakan yang sama. Dua hati yang terbelah, terpisah oleh waktu dan luka. Raka: Kenangan kita seperti bayang-bayang yang tak bisa kuhapus, selalu hadir di setiap sudut hatiku. Nina: Kadang aku bertanya, apakah cinta kita pernah benar-benar hilang? Ataukah hanya terpendam dalam kesunyian? Raka: Cinta itu tak pernah hilang, Nina. Ia berubah bentuk, menjadi sesuatu yang lebih dalam—rasa rindu dan penyesalan. Nina: Penyesalan... aku juga memilikinya. Jika saja aku bisa mengulang waktu, mungkin semuanya akan berbeda. Raka: Aku pun begitu berharap bisa kembali dan menghapus air mata yang pernah kita tumpahkan bersama. Nina: Tapi kita tak bisa mengubah masa lalu. Satu-satunya yang bisa kita lakukan hanyalah menerima dan berjuang untuk melangkah. Raka: Namun, bagaimana bisa membiarkan kenangan itu pergi begitu saja? Mereka adalah bagian dari kita, bagian ...
 Perih-Nya Nisan Zamrud  ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Negeri Zamrud kesayangan-ku , telah mati Kuburannya digali oleh tangan para Tuan & puan. Tak ada iringan duka, hanya suara mesin yang kejam, Ditutupi janji janji kaya, yang ternyata cuma khayalan.  Lihatlah, para tamu berdatangan dengan baju mewah, berbucket bunga plastik,  dengan senyum sombongnya.  Dulu banyak penggemar tanahmu, kini mereka yang merusaknya.  Katanya "untuk maju" , Tapi entah maju nya untuk siapa!  Pohon-pohon hijau yang dulu menyegarkan udara, Sekarang jadi tunggul bisu, saksi sifat serakah. Sungai jernih tempat ikan berenang senang, Kini jadi selokan kotor, airnya hitam dan berbusa. Di atas tanahmu yang lapang, mereka membangun gedung gedung pencakar langit  tempat untuk berpesta pora dan tertawa riya Mereka merayakan kemajuan, di atas tanahmu yang hancur, Lupa bahwa semuanya adalah air mata dan penderitaan. Putra-putrimu kini bermain di tengah debu dan asap, Cerita tent...
 Darah Di Ujung Surga ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Di ujung timur, surga pernah tersemat, Kini darah menetes, di atas tanah keramat. Bukan lagi kidung gembira, tapi isak yang tersayat, Dari rakyat Papua terpencil, yang jiwanya sekarat. Mata bocah pedalaman, tak lagi memantul bintang, Hanya hampa menganga, di antara mimpi yang terpenggal datang. Susu ibu tak lagi manis, bercampur racun dari limbah tambang, Generasi tumbuh ringkih, dalam dekapan nestapa yang membentang. Hutan adat, tempat roh leluhur bersemayam, Kini gundul menangis, digilas roda-roda kejam. Pohon adalah nisan, sungai adalah air mata muram, Tanah subur jadi kuburan, harapan terkubur paling dalam. Siapa peduli jerit mereka, dari balik bukit yang terjal? Saat emas dikeruk paksa, menyisakan lubang nestapa yang kekal. Janji manis pembangunan, hanya ilusi yang membual, Menyisakan luka menganga, dan duka yang takkan pernah tanggal. Noken kosong tak berisi, sagu pun kian sulit dicari, Perut lapar melilit perih, sementara di is...
 Sketsa Busuk Negeri Terkutuk ________________________________________________ Lupakan kanvas indah, ini coretan arang di atas borok! Ilustrasi Nusantara? Lebih tepatnya sketsa busuk yang meroyak. Warna bukan lagi pelangi, tapi hitam pekatnya kerak, Dari keserakahan yang tak henti, menusuk hingga ke benak. Para pelukisnya? Bertopeng negarawan, berhati serigala lapar, Kuasnya mencuri, paletnya berisi dusta dan janji yang hambar. Setiap garisnya demi kantong pribadi, rakyat hanya tumbal terbakar, Kemakmuran? Dongeng usang bagi mereka yang tidurnya di jalanan terkapar. Lihatlah! Istana berdiri megah, di atas gubuk-gubuk yang hampir rebah, Perut buncit penguasa, kontras dengan ringkikan lapar yang memilukan parah. Hukum? Komoditas dagangan, siapa yang bayar, dia yang menang dengan gagah, Keadilan jadi barang antik, dipajang di museum kebohongan yang berlimpah. Hutan diratakan, gunung dikeruk, laut dicekik limbah beracun, Atas nama pembangunan, atas nama investasi, nyawa alam jadi umpan...
 Kanvas Rusak nusantara --------------------------------------------------------- Di atas kanvas bernama Nusantara, Kucoba goreskan kuas, melukis wajahnya. Bukan elok permai yang dulu melegenda, Namun sketsa buram, penuh luka dan noda. Lihatlah warnanya, bukan lagi hijau subur zamrud, Tapi kelabu asap, dari hutan yang direnggut. Sungai bukan lagi perak, melainkan coklat keruh, Mengalirkan tangis bumi, dan limbah yang menumpuk. Gunung-gunung perkasa, kini tergerus serakah, Konturnya tak lagi gagah, terluka parah. Pantai-pantai molek, dihiasi sampah plastik, Mengubur pasir putih, keindahan yang terusik. Di sudut kota metropolitan, gedung menjulang angkuh, Namun di kakinya, rakyat kecil mengeluh. Kesenjangan menganga, bak jurang tak bertepi, Si kaya berpesta, si miskin kian terhimpit sepi. Hukum? Ah, ia bagai pisau bermata dua, Tajam ke bawah, tumpul bagi mereka yang berkuasa. Keadilan menjadi barang langka dan mahal, Suara kebenaran seringkali dibungkam, dianggap binal. Pendidikan ka...

π™Ώπ™΄π™½πšˆπ™°π™Έπš 𝙼.𝙴.πš‚.πš„.𝙼

 *π™Ώπ™΄π™½πšˆπ™°π™Έπš 𝙼.𝙴.πš‚.πš„.𝙼* _____________________ Heyy, Lihat dia—sang penyair mesum, Raja puisi cabul, dewa lirikan bejat, Dengan mulut penuh kata-kata basi, Meludah madu busuk ke wajah dunia. Dia menulis bait nan indah—katanya, Sajak-sajak erotis, sebuah mahakarya jijik, Membungkus nafsu dalam kemasan elegan, Demi menggoda pikiran yang bebal dan bodoh. “Cinta liar,” katanya, “adalah seni,” Padahal cuma asal gedor pintu kamar gelap, Dia pamer kata, tapi jiwa kosong, Menggenggam puisi, tapi tak pernah menggenggam hati. Lidahnya adalah mata yang menjelajah setiap lekuk, menulis bait demi bait, melukis tubuh yang bersemayam di antara huruf, mesum, liar, penuh godaan yang tak terkatakan, seperti embun membasahi malam dalam balutan nafsu. "Bacalah, nikmati setiap desah yang tersembunyi,”gumamnya dalam bisikan yang berlendir manis,dia cumbu kata-kata, menggoda jiwa yang mudah terpikat,membiarkan tinta membasahi janji-janji busuknya. Oh, betapa mulianya tugas sang penyair, Memutarb...

Pancasila duka

 *PANCASILA DUKA* ------------- Di negeri ini, tanah air tercinta, Pancasila dulu sakti, kini terlecehkan di meja-meja hitam, oleh para pejabat busuk, berwajah mirip malaikat, tapi berjiwa iblis busuk, menjilat berdoa di depan kamera — sementara di balik layar, merampok, menghancurkan harga diri bangsa. Janji kemerdekaan, hak asasi, keadilan, persatuan— hanya menjadi setumpuk kata basi, yang diperas dan dijual murah oleh mereka yang mengklaim pemimpin, tapi tak lebih dari maling berdasi, pencabut mimpi rakyat kecil. IDEOLOGI MASA KINI:                P.A.N.C.A.S.I.L.A 1. Tuhankan para penguasa.  2. Kemanusiaan abadi, khusus untuk para pencuri dan pelahap harta.  3. Persatuan investor serakah.  4. Kerakyatan Hanya sandiwara tipu daya, yang memusyawarahkan penindasan.  5. Keadilan sosial Eksklusif untuk kelas atas.  Di ruang rapat mewah, mereka bersilat lidah, mengoyak-ngoyak harga diri, menipu dengan senyum palsu. Raky...

Rindu yang sulit hilang

 *Rindu yang Sulit hilang* Di sudut malam yang kelam, aku terpuruk dalam kesedihan, Mengingat setiap detik yang kau curi dari hidupku, Seperti bayangan yang tak pernah pergi, Rindu ini menyiksa, mengoyak hati yang telah rapuh. Izinkan aku belajar melupakanmu, Namun setiap kali aku mencoba, Air mata ini mengalir tanpa henti, Seolah hatiku tak ingin melepaskan semua kenangan pahit. Kau adalah luka yang tak kunjung sembuh, Setiap tawa yang kita bagi kini menjadi racun, Menghantui langkahku, menyesakkan dadaku, Rindu ini adalah penjara yang tak berujung. Setiap tempat yang kita singgahi, Kini hanya menyisakan kepingan rasa sakit, Seperti bayanganmu yang terus membayangi, Mengingatkan betapa dalamnya luka ini tergores. Izinkan aku belajar melupakanmu, Namun bagaimana bisa, Ketika setiap detik adalah pengingat, Akan cinta yang tak terbalas dan harapan yang hancur. Kau adalah mimpi yang tak pernah terwujud, Seperti embun pagi yang menguap saat mentari datang, Setiap kali aku berusaha melu...

Kretek basah

 ---- *Kretek Basah*---- Di sudut kota yang sepi, di mana lampu-lampu jalan berkelip seperti bintang yang hilang, aku duduk sendiri, merindukan aroma kretek basah yang pernah kau bawa. Kau datang seperti hujan di tengah kemarau, menyirami jiwaku yang kering, menghidupkan kembali harapan yang hampir padam. Dalam setiap hisapan, aku merasakan kehangatan cintamu, seolah dunia ini hanya milik kita berdua. Kretek basah, simbol dari setiap detak jantung yang bergetar dalam kerinduan. Kau mengajarkan aku arti cinta yang sesungguhnya, bukan sekadar kata-kata manis yang terucap, tetapi sebuah perjalanan yang penuh liku. Dalam setiap kepulan asap yang melayang, tersimpan cerita kita—cerita tentang tawa, tangis, dan segala rasa yang tak terungkapkan. Namun, seiring waktu berlalu, aku mulai merasakan kepedihan yang tak terelakkan. Seperti kretek yang menyala, cinta kita pun membara, tetapi tak lama kemudian, ia mulai memudar. Kau pergi, meninggalkan bara yang tak bisa kuhangatkan lagi. Kini, a...

SINGA DI LUAR KANDANG

 --- *Singa Di Luar Kandang* Di pagi yang cerah, aku berdiri di tengah padang yang luas. Dulu, aku seperti singa yang terkurung dalam kandang. Suaraku terbungkam, langkahku terhalang oleh jeruji yang kau buat. Kau adalah penguasa yang mengendalikan hidupku, mengatur setiap langkahku. Namun hari ini, angin berbisik lembut, membawa harapan baru. Mentari menyinari wajahku, menghapus kabut yang menutupi mataku. Aku adalah singa yang kini berani melangkah keluar, meninggalkan belenggu yang mengikatku. Daun-daun di pohon menari-nari dalam angin, bebas dan ceria. Mereka tidak terkurung oleh tanah, dan aku pun tidak lagi terbelenggu oleh kekanganmu. Sungai mengalir deras, menembus bebatuan, merdeka dalam jalannya, seperti hatiku yang kini bebas dari pengendalianmu. Tak ada lagi bisikan yang membelenggu, hanya semangat yang membara. Aku adalah singa yang mengaum ke langit, menembus batasan yang ada. Hutan menjadi saksi, dan langit melindungiku. Aku menulis kisah hidupku sendiri, tanpa campu...

Pelangi Ku Pamit

 *Pelangi Ku Pamit* Di ujung senja yang merona, aku duduk di tepi jendela, menatap langit yang mulai gelap. Di sana, di antara awan-awan kelabu, aku teringat akan warna-warni pelangi yang pernah menghiasi hidupku. Pelangi itu, yang kau lukis dengan senyummu, kini seolah memudar, meninggalkan jejak-jejak kenangan yang takkan pernah pudar. Kebahagiaan kita, seperti pelangi setelah hujan, datang dengan indah dan penuh harapan. Setiap tawa yang kita bagi, setiap cerita yang kita ukir, adalah warna-warna cerah yang menghiasi hari-hariku. Namun, seiring waktu berlalu, awan kelabu mulai menggelayuti langit kita. Kita terjebak dalam badai yang tak kunjung reda, dan pelangi itu perlahan-lahan menghilang. Kini, aku harus merelakan. Merelakan semua kenangan indah yang pernah kita rajut bersama. Merelakan tawa yang kini hanya menjadi gema di dalam hati. Pelangi ku, kau pergi tanpa pamit, meninggalkan langitku kosong dan sepi. Namun, aku tahu, setiap perpisahan adalah bagian dari perjalanan. Mu...

Gerbong Belakang

 **Gerbong Belakang** Di rel kehidupan yang berkelok,   Kita adalah penumpang dalam gerbong waktu,   Menyusuri lanskap kenangan,   Di mana setiap detik adalah butir pasir,   Yang terhampar di pantai jiwa. Jaga ragamu, baik-baik ya  Seperti embun pagi yang menempel lembut,   Pada daun-daun hijau,   Hiduplah dalam keindahan,   Jangan biarkan badai masa lalu menggerogoti. Kenangan indah,   Seperti cahaya rembulan yang menari di permukaan danau,   Menggugah rasa,   Membawa kita kembali ke pelukan hangat,   Di mana tawa dan canda bersemi. Namun, di gerbong belakang,   Ada bayang-bayang kelam,   Kenangan buruk yang mengintai,   Seperti awan gelap yang mengancam,   Menyelimuti sinar mentari. Buanglah, buanglah semua beban itu,   Seperti daun kering yang terhempas angin,   Biarkan mereka pergi,   Menjadi deb...

Hati yang memudar

 π™·πšŠπšπš’ πšˆπšŠπš—πš π™ΌπšŽπš–πšžπšπšŠπš› π™ΊπšŠπš›πš’πšŠ : πšŠπš‹πšŠπš.πš’ Dalam gelap yang mulai merayap, hati ini redup terselubung bayang ego yang menari riang, melalaikan cinta yang dulu bersemayam hangat. Kata-kata yang pernah mengalir lembut kini menjadi senyap, terkunci dalam genggaman kepahitan dan perhitungan. Setiap detik berlalu, kita terjebak dalam rutinitas yang membosankan, seolah waktu hanya berputar di tempat yang sama, tanpa arah dan tujuan. Kau dan aku, dua bara api yang membara untuk diri sendiri, saling mendesak tanpa memberi ruang bernafas. Rindu menjadi beban, perhatian berubah menjadi pertahanan, dan perbedaan menjadi jurang yang melebar seiring waktu. Dalam setiap percakapan, ada kata-kata yang terpendam, harapan yang tak terucap, dan rasa sakit yang tak terhindarkan. Kita berusaha saling memahami, namun ego kita lebih kuat, menghalangi jalan menuju hati yang sebenarnya. Seperti daun di musim gugur yang lepas satu per satu, kasih ini tertiup angin ego yang kaku. Tak ada la...

ᴋᴇʀᴛᴀs α΄‹α΄œsα΄œα΄›

 Kita adalah dua pena yang menari di atas kertas yang sama, namun jalan tinta kita berbeda. Cintaku tertulis dengan goresan lembut, penuh harap dan keikhlasan, sementara cintamu seperti pena yang terburu, meninggalkan jejak kusut dan patah dalam halaman hidup kita. Kertas kosong itu telah menjadi saksi bisu, bagaimana perbedaan perlahan mengubah ruang yang dulu penuh warna menjadi area kusut penuh keraguan. Setiap kata yang kutulis ingin kau baca, namun kata-kata itu terperangkap dalam lipatan yang tak pernah kau buka. Cintaku seperti angin pagi yang sejuk dan sabar, menunggu mentari bersinar. Namun cintamu bagai badai yang datang tanpa permisi, mengoyak ketenangan dan mencabik harapan yang kusemai dengan penuh keyakinan. Kita berdiri di tepi waktu, meraba-raba apa arti kata cinta di tengah perbedaan yang membentang. Kertas yang kusut ini menumpuk bersama rasa yang tak pernah searah, membuatku bertanya apakah tinta kita mampu menyatukan atau justru menghapus satu sama lain. Kadang ...

Rindu yang tertahan

 πšπš’πš—πšπšž πš’πšŠπš—πš πšƒπšŽπš›πšπšŠπš‘πšŠπš— π™ΊπšŠπš›πš’πšŠ: πšŠπš‹πšŠπš.πš’ Di antara riuh sunyi malam yang menutup cakrawala, rindu ini berbisik lirih di antara helai angin yang berkelana. Ia merambat sehalus embun, menempel di daun-daun yang lelah menunggu fajar menyentuh. Wajahmu terlukis samar dalam arus awan yang melintas pelan, seolah bumi pun tahu betapa dalam getar hati ini. Namun rindu itu memilih diam; tak berani menerjang badai yang memisah kita. Seperti hujan yang enggan turun, hanya mengguyur kenangan dalam jiwa, rindu terkunci rapat dalam gerimis tak bersuara. Ia tersimpan di balik kelopak mata yang tak sempat bertemu, dalam tarian bayangmu yang tak kunjung singgah. Dalam setiap desir angin yang melambai di ladang rerumputan, terdengar suara hatiku yang menunggu. Betapa rinduku adalah daun gugur yang terus berjatuhan, meski musim telah berganti, dan kesunyian tetap setia menemani. Langit yang luas pun menjadi saksi betapa setiap hela napas adalah harap yang tertahan, menanti secerc...