Kanvas Rusak nusantara

---------------------------------------------------------

Di atas kanvas bernama Nusantara,

Kucoba goreskan kuas, melukis wajahnya.

Bukan elok permai yang dulu melegenda,

Namun sketsa buram, penuh luka dan noda.


Lihatlah warnanya, bukan lagi hijau subur zamrud,

Tapi kelabu asap, dari hutan yang direnggut.

Sungai bukan lagi perak, melainkan coklat keruh,

Mengalirkan tangis bumi, dan limbah yang menumpuk.


Gunung-gunung perkasa, kini tergerus serakah,

Konturnya tak lagi gagah, terluka parah.

Pantai-pantai molek, dihiasi sampah plastik,

Mengubur pasir putih, keindahan yang terusik.


Di sudut kota metropolitan, gedung menjulang angkuh,

Namun di kakinya, rakyat kecil mengeluh.

Kesenjangan menganga, bak jurang tak bertepi,

Si kaya berpesta, si miskin kian terhimpit sepi.


Hukum? Ah, ia bagai pisau bermata dua,

Tajam ke bawah, tumpul bagi mereka yang berkuasa.

Keadilan menjadi barang langka dan mahal,

Suara kebenaran seringkali dibungkam, dianggap binal.


Pendidikan katanya mercusuar peradaban,

Nyatanya masih banyak anak tak mengenyam impian.

Ruang kelas reyot, guru honorer menjerit pilu,

Sementara anggaran entah mengalir ke mana, tak tentu.


Korupsi merajalela, bak kanker ganas stadium akhir,

Menggerogoti sendi bangsa, membuat rakyat getir.

Tikus-tikus berdasi tertawa di singgasana,

Menghisap darah negeri, tanpa rasa bersalah, tanpa merana.


Persatuan? Hanya slogan di spanduk-spanduk usang,

Ketika intoleransi dan kebencian mudah terpasang.

Perbedaan yang dulu jadi mozaik indah nan kaya,

Kini jadi bara api, siap membakar sesama.


Inikah ilustrasi negeriku yang tercinta?

Sebuah potret pilu, sarat duka dan air mata.

Tanah yang dulu dijanjikan surga oleh para leluhur,

Kini retak, remuk, perlahan-lahan hancur.


Namun di antara serpihan dan puing-puing ini,

Masih ada secercah tanya, masih adakah peduli?

Atau kanvas ini akan terus tergores luka baru,

Hingga tak ada lagi warna, kecuali kelabu yang syahdu?


Indonesia, ilustrasi negeri yang merintih,Siapa yang akan mengambil kuas, melukisnya kembali pulih?Atau kita hanya penonton bisu, dalam teater kehancuran ini?Menunggu semuanya lebur, lalu tinggal penyesalan abadi.


ʙᴏɢᴏʀ, 𝟸3/𝟶𝟻/𝟸𝟶𝟸𝟻

ᴀʙᴀᴅ.ɪ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝙷𝚊𝚒, 𝙳𝚎𝚜𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛.

Terimakasih Desember