Terimakasih Desember
Terimakasih Desember
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Desember kali ini datang tanpa permisi,
membawa aroma tanah basah yang biasanya kita hirup berdua di teras belakang.
Tapi pagi ini, hanya ada aku dan kepul uap kopi yang mendingin lebih cepat dari biasanya.
Sepertinya, suhu udara tahu bahwa pelukmu sudah tidak lagi menjadi tumpuanku.
Aku masih ingat bagaimana caramu merayakan hujan.
Kamu bilang, hujan adalah cara langit menyampaikan rindu yang paling rahasia.
Sekarang aku paham, kenapa langit menangis begitu hebat bulan ini.
Mungkin ia juga kehilanganmu,
sebagaimana aku kehilangan separuh napas yang biasa kupanggil "rumah".
Kita pernah berjanji untuk menghabiskan sisa kalender dengan tawa yang genap.
Tapi nyatanya, takdir lebih suka angka ganjil.
Ia membiarkanku sendirian di angka satu,
sementara kamu sudah menjadi bagian dari ketiadaan yang tak sanggup kusentuh.
"Terimakasih sudah sempat mampir,"
"Terimakasih juga sudah pernah membuatku merasa bahwa dicintai adalah hal paling beruntung di dunia ini."
Desember ini sungguh kurang ajar.
Ia menyisakan barang-barangmu yang masih beraroma parfum yang sama.
Ia menyisakan sikat gigi warna biru yang masih setia di samping milikku.
Ia menyisakan bantal yang masih menyimpan lekuk kepalamu.
Semua itu seolah mengejekku,
mengatakan bahwa yang fana adalah kita, tapi kenangan tetap abadi dan menyiksa.
Aku tidak sedang mengutuk kepergianmu.
Sebab aku tahu, mencintaimu adalah paket lengkap dengan melepaskanmu.
Aku hanya sedang belajar,
bagaimana cara berjalan tanpa perlu menoleh ke belakang untuk mencari tanganmu.
Aku sedang belajar cara bernapas di dalam air,
karena sejak kamu pergi, rindu ini rasanya seperti tenggelam tanpa dasar.
Terimakasih, Desember.
Atas hujan-hujan yang menyamarkan air mataku.
Atas dingin yang membuatku sadar bahwa kehangatanmu memang tak tergantikan.
Dan terimakasih untukmu, pasanganku yang kini tinggal nama di atas batu.
Tidurlah dengan tenang di sana.
Jangan khawatirkan aku yang masih tertatih mengeja sepi.
Aku akan baik-baik saja,
meski "baik-baik saja" versiku sekarang adalah belajar hidup dengan lubang besar di dada.
Selamat jalan, Sayang.
Desember ini berakhir, tapi cintaku padamu tidak punya tanggal kedaluwarsa.
π±ππππ. 27/12/2025
π°πππ.π
Komentar
Posting Komentar