Memanen Kebun di Luka-ku
Lihat kebunku... Kini hanya berisi sisa-sisa percakapan yang tak sempat usai. Aku pernah menjadi orang paling rajin yang merawat tumbuhmu, menjaga tiap jengkal perasaan agar tetap mekar, meski aku tahu, matahari di matamu bukan lagi milikku. Setiap hari... Aku belajar bahwa mengenalmu adalah sebuah keberanian. Keberanian untuk siap hancur, keberanian untuk siap dilupakan. Terima kasih, ya? Karena sudah mengizinkanku mampir sebentar, mencicipi bagaimana rasanya diperjuangkan lalu dibuang tanpa alasan. Semuanya indah... Dulu, namamu adalah doa yang paling rajin kupanjat. Mawar merah itu adalah caramu memikatku, dan putih melati itu adalah caraku memaafkan semua egomu. Tapi kini aku paham, bahwa keindahan yang kau tawarkan hanyalah sekadar pajangan, bukan sesuatu yang ingin kau jaga selamanya dalam pelukan. Mawar, melati, semuanya... Semua orang kini tahu betapa hancurnya aku setelah mengenalmu. Ternyata, mencintaimu adalah cara tercepat untuk kehilangan diriku sendiri. Aku mengenalmu seb...