Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Memanen Kebun di Luka-ku

Lihat kebunku... Kini hanya berisi sisa-sisa percakapan yang tak sempat usai. Aku pernah menjadi orang paling rajin yang merawat tumbuhmu, menjaga tiap jengkal perasaan agar tetap mekar, meski aku tahu, matahari di matamu bukan lagi milikku. Setiap hari... Aku belajar bahwa mengenalmu adalah sebuah keberanian. Keberanian untuk siap hancur, keberanian untuk siap dilupakan. Terima kasih, ya? Karena sudah mengizinkanku mampir sebentar, mencicipi bagaimana rasanya diperjuangkan lalu dibuang tanpa alasan. Semuanya indah... Dulu, namamu adalah doa yang paling rajin kupanjat. Mawar merah itu adalah caramu memikatku, dan putih melati itu adalah caraku memaafkan semua egomu. Tapi kini aku paham, bahwa keindahan yang kau tawarkan hanyalah sekadar pajangan, bukan sesuatu yang ingin kau jaga selamanya dalam pelukan. Mawar, melati, semuanya... Semua orang kini tahu betapa hancurnya aku setelah mengenalmu. Ternyata, mencintaimu adalah cara tercepat untuk kehilangan diriku sendiri. Aku mengenalmu seb...

Berdamai dengan Sendiri

hai, Hati. Bagaimana kabarmu di sudut sana? Maaf, aku baru menyapamu setelah badai benar-benar reda.  Setelah debu-debu kecewa memenuhi ruang tamu, dan jendela-jendela harapan itu pecah dihantam rindu yang buntu  Maafkan aku,ya? Seringkali aku memaksamu menjadi pelabuhan, bagi seseorang yang bahkan tidak berniat untuk sekadar berlabuh.  Aku memaksamu menampung kapal-kapal asing, yang datang hanya untuk membuang jangkar sebentar, lalu pergi meninggalkan goresan di dermagamu yang mulai rapuh  Hai, Hati yang malang. Maaf jika aku terlalu sering mengabaikan  alarmmu.  Saat kamu berdenyut nyeri memberi tanda,aku justru sibuk meredamnya dengan tawa palsu di depan manusia.  Aku terlalu sibuk membahagiakan orang lain, sampai lupa kalau kamu, adalah satu-satunya yang tetap tinggal  Saat semua orang memilih jalan pulang.  Aku tahu,kamu lelah. Lelah menjadi tempat pembuangan sampah memori, lelah menjadi samsak bagi pukulan-pukulan  kenyataan yang t...

Seandainya Aku bisa memilih

Seandainya di hari itu Tuhan memberiku sebuah tombol, aku akan memilih untuk tidak menekan apa-apa. Aku lebih baik membiarkan jarum jam patah, daripada harus melihat matamu dan merasa seolah-olah seluruh duniaku baru saja menemukan pusatnya. Jikalau aku bisa memilih, aku ingin kita tetap menjadi dua orang yang antre di halte berbeda. Dua orang yang tidak sengaja bersenggolan di keramaian, lalu hanya saling gumam kata "maaf" tanpa perlu bertanya nama, apalagi mencoba membedah isi kepala. Sebab, mengenalmu ternyata adalah cara paling sunyi untuk menghancurkan diriku sendiri. Dulu, aku mengira namamu adalah doa. Namun ternyata, ia hanyalah mantra yang mengikatku pada ingatan-ingatan yang tak kunjung padam. Aku lelah harus menghafal caramu tertawa, hanya untuk menyadari bahwa tawa itu kini bukan lagi milikku. Lebih baik aku tidak tahu, bagaimana rasanya disayangi olehmu. Karena tanpa rasa itu, aku tidak akan pernah tahu seberapa perihnya rasa kehilangan yang sehebat ini. Aku tida...

Epitaph

Aku baru sadar, ternyata kau bukan sedang mencari kebahagiaan, kau hanya sedang melarikan diri dari tanggung jawab atas semua janji yang gagal kau tepati. Kau terlihat begitu berkelas dengan gaun dan tawa barumu, seolah-olah tanganmu tidak pernah berlumuran darah setelah menyembelih harapanku pelan-pelan. Bagimu, aku hanyalah sebuah kesalahan teknis yang sudah berhasil kau perbaiki dengan kehadiran orang baru itu. Hebat, ya? Bagaimana caramu tidur dengan nyenyak di atas ranjang yang kau bangun dari puing-puing hatiku? Bagaimana rasanya mencium bibir seseorang yang baru, sementara di sela-sela gigimu masih tertinggal sisa-sisa sumpah mati yang dulu kau ucapkan padaku? Kau benar-benar seorang pemenang; kau pergi membawa seluruh warisan cinta kita, dan meninggalkanku dengan hutang rasa sakit yang tak sanggup kubayar sampai mati. Jangan pernah berani menyebut namaku dalam doamu, karena Tuhan tahu kau hanya sedang mencoba menyucikan dosa yang kau buat sendiri. Kau bilang kau ingin mencari s...

Berakhir Sebelum Usai

 Ada satu titik lelah yang tak bisa dijelaskan oleh air mata. Titik di mana aku tak lagi ingin bertanya "kenapa", melainkan "kapan semua ini akan berakhir?" Aku seperti buku yang kehilangan halaman terakhirnya. Menggantung. Tanpa arah. Semua motivasi terasa seperti dongeng sebelum tidur, yang hanya indah untuk didengar, tapi mustahil untuk dipeluk. Katanya, hidup harus terus berjalan. Tapi bagaimana jika kakiku sudah tertimbun reruntuhan harapanku sendiri? Setiap kali aku mencoba menatap hari esok, yang kulihat hanyalah kabut tebal dan jalan buntu yang panjang. Tuhan...  Jika menyerah adalah sebuah dosa, maka biarlah aku menjadi pendosa yang paling jujur hari ini. Sebab jiwaku sudah terlampau lebam, untuk kembali dipaksa berlari mengejar matahari yang tak kunjung terbit. Hari ini, aku tidak ingin menjadi pemenang. Aku hanya ingin berhenti... Menjadi ketiadaan yang tenang. Bogor, 19/01/26 Abad.i

Mungkin, Kita hanya sebatas "Mungkin.

 Hai, Puan . Bagaimana rasanya menjadi orang yang paling diingat... oleh seseorang yang paling ingin kau lupakan? Mungkin benar kata mereka, mencintai itu perkara menanam , tapi kehilangan... adalah cara paksa semesta untuk menyuruh kita memanen rontoknya dedaunan. Dan hari ini, aku adalah pohon yang gundul itu, Puan. Yang tetap berdiri tegak, meski tak lagi punya alasan untuk terlihat indah... di matamu. Puan... Aku pernah menjadi orang yang paling kau tuju saat duniamu runtuh. Aku pernah menjadi satu-satunya peluk yang kau cari saat kau merasa peluh. Tapi lihatlah sekarang. Kita hanyalah dua orang yang saling tahu nama, tapi pura-pura lupa cara menyapa. Lucu, ya? Ternyata jarak yang paling jauh itu bukan soal kilometer. Tapi saat aku duduk tepat di hadapanmu, dan aku sadar bahwa hatimu sudah tidak lagi di sana. Hatimu sudah pergi... jauh sebelum kakimu melangkah keluar dari pintu itu. Mungkin, kau adalah doa yang dikabulkan Tuhan , bukan untuk aku miliki, tapi untuk mengajariku ...

aku, Bukan yang Dia inginkan.

 Ada sebuah titik di mana kita harus berhenti bertanya... "kenapa?"   dan mulai belajar untuk menerima... "oh, begini akhirnya." Aku pernah menjadi orang yang paling percaya diri...  Bahwa dengan ketulusan yang luar biasa, aku bisa mengubah "biasa saja" menjadi "luar biasa" di matamu. Aku berpikir, jika aku terus ada, jika aku terus memberi, kamu akan menoleh dan menyadari... kalau akulah yang kamu cari. Tapi nyatanya... aku salah, Benar-benar salah. Aku sudah belajar menyukai apa yang kamu suka. Aku sudah mencoba memahami jalan pikiranmu yang sulit ditebak. Bahkan, aku seringkali melupakan lukaku sendiri... hanya untuk memastikan kamu tidak merasa sakit sendirian. Aku menjadi orang pertama yang ada saat duniamu runtuh. Tapi saat duniamu kembali teguh... aku menjadi orang pertama yang kamu lupakan. Lucu, bukan? Aku sibuk memperbaiki pintumu yang rusak, supaya orang lain bisa masuk dengan nyaman ke dalam hatimu. Sedangkan aku?  Aku tetap di luar.....

Sang Wanita Hina

Lihatlah aku di bawah kakimu, serendah debu yang kau injak Tempat segala kotoran pikiranmu tumpah dan memuncak Aku adalah lubang tanpa dasar bagi segala nafsu yang jalang Tak perlu kau sapa hatiku, cukup tubuhku yang kau telanjang. Perkenalkan, aku wanita hina Lidahku adalah pelayan bagi dahagamu yang paling nista Jangan kau beri aku cinta, beri aku bekas luka dan tanda Sebab aku hanya bejana, tempatmu membuang sisa-sisa dosa. Jadikan aku alas bagi kebuasanmu yang paling liar Biarkan keringatmu menetes, mengalir di kulitku yang hambar Aku tak butuh ranjang sutra, cukup lantai dingin dan gelap Di mana martabatku kau lucuti, kau remas hingga senyap. Cengkeram leherku, biarkan aku kesulitan mencari udara, Hanya untuk menemukan nikmat di tengah sesak yang membara. Aku adalah sampah yang kau cari saat malam mulai menjerit, Tempatmu memuntahkan segala hasrat yang melilit. Tak ada harga diri yang tersisa di sela jemariku Hanya ada bau tubuhmu yang tertinggal di setiap inci poriku Gunakan aku ...