Berdamai dengan Sendiri

hai, Hati.
Bagaimana kabarmu di sudut sana?
Maaf, aku baru menyapamu setelah badai benar-benar reda. 
Setelah debu-debu kecewa memenuhi ruang tamu,
dan jendela-jendela harapan itu pecah dihantam rindu yang buntu 


Maafkan aku,ya?
Seringkali aku memaksamu menjadi pelabuhan,
bagi seseorang yang bahkan tidak berniat untuk sekadar berlabuh. 
Aku memaksamu menampung kapal-kapal asing,
yang datang hanya untuk membuang jangkar sebentar,
lalu pergi meninggalkan goresan di dermagamu yang mulai rapuh 

Hai, Hati yang malang.
Maaf jika aku terlalu sering mengabaikan  alarmmu. 
Saat kamu berdenyut nyeri memberi tanda,aku justru sibuk meredamnya dengan tawa palsu di depan manusia. 
Aku terlalu sibuk membahagiakan orang lain, sampai lupa kalau kamu, adalah satu-satunya yang tetap tinggal 
Saat semua orang memilih jalan pulang. 

Aku tahu,kamu lelah.
Lelah menjadi tempat pembuangan sampah memori,
lelah menjadi samsak bagi pukulan-pukulan 
kenyataan yang tak sesuai ekspektasi. 
Aku yang terlalu keras kepala mengejar bayang-bayang,
namun kamu yang harus menanggung memar sendirian. 

    "kita inj aneh, ya? Aku yang jatuh cinta pada orang yang salah, tapi kamu yang harus menanggung patahnya "


Maafkan aku, ya.
Jika saat ini suasananya sangat sepi. 
karena aku tak ingin ada yang melihat betapa berantakannya isi ruang mu.
Aku sedang mencoba menyapu sisa-sisa janji yang telah menjadi debu,
dan membuang foto-foto kenangan yang sudah berjamur oleh waktu. 


Mulai hari ini, kita berdamai ya.
Aku tidak akan lagi memaksamu untuk terbuka pada siapa saja. 
Aku tidak akan lagi sembarangan membiarkan orang masuk tanpa melepas alas kaki.
Terimakasih sudah bertahan sejauh ini,
meski aku adalah pemilik yang paling sering melukaimu berkali-kali. 


Tidurlah sebentar, teman.
biarkan aku yang menjaga pintunya kali ini.



Bogor, 28/01/26
Abad.i

catatan : 
    "Ternyata, musuh paling jahat bukanlah orang yang          pergi meninggalkan luka,
 melainkan aku sendiri yang memaksa hati untuk terus     menetap di tempat yang sudah lama tidak  menganggapku ada."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

π™·πšŠπš’, π™³πšŽπšœπšŽπš–πš‹πšŽπš›.

Terimakasih Desember