πΏπ΄π½ππ°πΈπ πΌ.π΄.π.π.πΌ
*πΏπ΄π½ππ°πΈπ πΌ.π΄.π.π.πΌ*
_____________________
Heyy, Lihat dia—sang penyair mesum,
Raja puisi cabul, dewa lirikan bejat,
Dengan mulut penuh kata-kata basi,
Meludah madu busuk ke wajah dunia.
Dia menulis bait nan indah—katanya,
Sajak-sajak erotis, sebuah mahakarya jijik,
Membungkus nafsu dalam kemasan elegan,
Demi menggoda pikiran yang bebal dan bodoh.
“Cinta liar,” katanya, “adalah seni,”
Padahal cuma asal gedor pintu kamar gelap,
Dia pamer kata, tapi jiwa kosong,
Menggenggam puisi, tapi tak pernah menggenggam hati.
Lidahnya adalah mata yang menjelajah setiap lekuk,
menulis bait demi bait, melukis tubuh yang bersemayam di antara huruf,
mesum, liar, penuh godaan yang tak terkatakan,
seperti embun membasahi malam dalam balutan nafsu.
"Bacalah, nikmati setiap desah yang tersembunyi,”gumamnya dalam bisikan yang berlendir manis,dia cumbu kata-kata, menggoda jiwa yang mudah terpikat,membiarkan tinta membasahi janji-janji busuknya.
Oh, betapa mulianya tugas sang penyair,
Memutarbalikkan kata seperti tukang sulap murahan,
Mengubah kata “kejujuran” jadi bisikan nakal,
Mengubah rasa jadi barang dagang murah.
Dia bercumbu dengan metafora murahan,
melecehkan rasa, menodai makna,
seolah-olah dunia ini cuma panggung sandiwara,
dan dia bintang porno di atas panggung kata.
Suaranya bergaung, tapi cuma suara kosong,
seperti genderang yang dipukul oleh tongkat patah,
Pujian mengalir dari bibir tolol,
sebagai tepuk tangan untuk sang penipu kata.
Jangan tertipu oleh senyum muramnya,itu cuma masker untuk kebusukan hati,penyair mesum ini bukan pembawa cahaya,melainkan penghancur rasa dalam kamus bahasa.
Dan di ujung malam, saat tinta mengering,sendiri dia duduk dengan wajah berkerut,menyadari, kata-katanya cuma debu di angin,dan ia—hanya bayang-bayang gagal dalam puisi-nya.
-------+------
π±ππππ, 11/05/2025
π°πππ.π
Komentar
Posting Komentar