Pelangi Ku Pamit
*Pelangi Ku Pamit*
Di ujung senja yang merona, aku duduk di tepi jendela, menatap langit yang mulai gelap. Di sana, di antara awan-awan kelabu, aku teringat akan warna-warni pelangi yang pernah menghiasi hidupku. Pelangi itu, yang kau lukis dengan senyummu, kini seolah memudar, meninggalkan jejak-jejak kenangan yang takkan pernah pudar.
Kebahagiaan kita, seperti pelangi setelah hujan, datang dengan indah dan penuh harapan. Setiap tawa yang kita bagi, setiap cerita yang kita ukir, adalah warna-warna cerah yang menghiasi hari-hariku. Namun, seiring waktu berlalu, awan kelabu mulai menggelayuti langit kita. Kita terjebak dalam badai yang tak kunjung reda, dan pelangi itu perlahan-lahan menghilang.
Kini, aku harus merelakan. Merelakan semua kenangan indah yang pernah kita rajut bersama. Merelakan tawa yang kini hanya menjadi gema di dalam hati. Pelangi ku, kau pergi tanpa pamit, meninggalkan langitku kosong dan sepi. Namun, aku tahu, setiap perpisahan adalah bagian dari perjalanan. Mungkin, suatu saat nanti, kita akan menemukan pelangi baru di langit yang berbeda.
Dengan air mata yang mengalir, aku mengucapkan selamat tinggal. Selamat tinggal, kebahagiaan yang pernah ada. Selamat tinggal, pelangi ku. Semoga kau menemukan tempat yang lebih indah, di mana warna-warni mu bisa bersinar lebih terang. Dan meski kita terpisah oleh jarak dan waktu, kenangan kita akan selalu menjadi bagian dari diriku, selamanya.
๐๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ต ๐๐ช๐ต๐ข๐ฎ, ๐ฝ-แดแดษช-๐ธ๐ถ๐ธ๐ป
แดสแดแด .ษช
Komentar
Posting Komentar