𝐌𝐚𝐧𝐮𝐬𝐤𝐫𝐢𝐩 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐚𝐤 𝐏𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐒𝐞𝐥𝐞𝐬𝐚𝐢

 𝐌𝐚𝐧𝐮𝐬𝐤𝐫𝐢𝐩 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐚𝐤 𝐏𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐒𝐞𝐥𝐞𝐬𝐚𝐢


Beberapa orang ditakdirkan untuk menjadi pelajaran,

bukan untuk menjadi tujuan.

Dan kau adalah bab paling panjang dalam bukuku,

bab yang paling sering kubaca ulang meski aku tahu akhirnya hanya akan menyakitkan.

Kita pernah sedekat nadi, sebelum akhirnya menjadi sejauh matahari.

Kau masih ada, kau masih bersinar,

namun aku takkan lagi sanggup menggapaimu tanpa membuat diriku terbakar.


Aku benci akan April yang selalu mengingatkanku pada cara kau berpamitan.

Tanpa teriakan, tanpa pertengkaran yang hebat.

Kau hanya pergi dengan cara yang paling sopan,

meninggalkan aku yang masih penuh dengan pertanyaan.

Kau bilang, "Ini demi kebaikan kita bersama."

Tapi mengapa hanya kau yang terlihat lebih baik?

Sedangkan aku masih terperangkap dalam ruang hampa,

tuk mencoba mencari sisa-sisa diriku yang kau bawa pergi tanpa izin.


Melihatmu dengannya adalah jenis patah hati yang paling sunyi.

Tidak ada suara retakan, tidak ada ledakan.

Hanya ada rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh,

serta menyadari bahwa tempat yang dulu adalah milikku,

kini sudah memiliki penghuni baru yang kau jamu dengan lebih hangat.


𝚃𝚎𝚛𝚗𝚢𝚊𝚝𝚊a, 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚐𝚊𝚗𝚝𝚒𝚔𝚊𝚗𝚔𝚞 𝚒𝚝𝚞 𝚜𝚎𝚖𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚕𝚒𝚔𝚔𝚊𝚗 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚙𝚊𝚔 𝚝𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗,

𝚜𝚎𝚍𝚊𝚗𝚐𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚕𝚞𝚙𝚊𝚔𝚊𝚗𝚖𝚞 𝚒𝚝𝚞 𝚜𝚎𝚜𝚞𝚕𝚒𝚝 𝚖𝚎𝚗𝚎𝚗𝚊𝚗𝚐𝚔𝚊𝚗 𝚋𝚊𝚍𝚊𝚒 𝚍𝚒 𝚝𝚎𝚗𝚐𝚊𝚑 𝚕𝚊𝚞𝚝𝚊𝚗.


Dulu kita adalah dua cangkir kopi yang saling berbagi uap,

kini kita hanyalah dua orang asing yang saling buang muka saat tak sengaja bertatap.

Aku takkan lagi memaksakan pepohonan untuk tetap berdaun di musim gugur.

Aku pun takkan lagi meminta ombak untuk berhenti menghantam karang.

Sebab aku tahu, memaksamu menetap hanya akan membuatmu semakin ingin lari,

dan membuatku semakin kehilangan harga diri.


Maka, biarlah naskah ini berakhir di sini.

Di antara baris-baris doa yang mulai memudar

dan di antara rindu yang tak lagi memiliki alamat untuk dikirimkan.

Aku tidak akan membencimu, karena benci adalah bentuk lain dari kepedulian.

Aku hanya akan membiasakan diri untuk tidak lagi mencarimu.

Hiduplah dengan baik, meski bukan denganku.

Bahagialah dengan pilihanmu, meski itu berarti aku harus layu.

Dan selamat merayakan April-mu yang baru,

dari aku, yang perlahan mulai belajar untuk tidak lagi merindukanmu.

~~~

𝙱𝚘𝚐𝚘𝚛. 11/5/26

𝙰𝚋𝚊𝚍.𝚒

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝙷𝚊𝚒, 𝙳𝚎𝚜𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛.

𝘼𝙠𝙪 𝙈𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙏𝙧𝙖𝙪𝙢𝙖𝙠𝙪

Terimakasih Desember