𝐌𝐚𝐧𝐢𝐟𝐞𝐬 𝐏𝐞𝐧𝐮𝐦𝐩𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫

 𝐌𝐚𝐧𝐢𝐟𝐞𝐬 𝐏𝐞𝐧𝐮𝐦𝐩𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫


Di dunia yang serba cepat ini, aku belajar bahwa tidak semua yang berangkat akan sampai, dan tidak semua yang berjanji akan menepati. Hari ini, garis finis itu terlihat jelas. Kau berdiri di sana, menggenggam tangan seseorang yang barangkali namanya tak pernah kusebut dalam doa, namun namanya kini menjadi penutup bab dalam buku hidupmu.


Selamat. Kau sudah menang.

Kau mendapatkan sosok yang lebih dari sekadar "cukup".

Seseorang yang tidak perlu berjuang sekeras aku hanya untuk membuatmu tersenyum.

Seseorang yang barangkali memiliki peta yang lebih jelas, bukan sekadar kompas rusak yang kupunya.


Kapalku sudah karam

Papan-papan kayunya mulai hancur dihantam kenyataan bahwa aku bukan lagi tujuanmu.

Dulu, aku percaya bahwa cinta adalah tentang bertahan di tengah badai.

Aku bertahan, aku menambal tiap kebocoran dengan sisa-sisa harapanku,

namun kau justru memilih melompat ke sekoci lain yang lebih menjanjikan ketenangan.



Sekarang, lihatlah aku.

Aku sedang tenggelam, perlahan tapi pasti.

Air laut mulai memenuhi paru-paruku, sesak oleh kata-kata yang tak sempat terucap.

Lucu melihatmu dari bawah sini; kau terlihat begitu terang, begitu bahagia.

Ternyata benar, kau memang bunga yang indah, hanya saja tanahku terlalu gersang untuk membuatmu tetap mekar.


Dia adalah segalanya yang aku cita-citakan namun gagal kuwujudkan:


 Dia adalah Kepastian, saat aku hanyalah Kemungkinan. 

 Dia adalah rumah yang kokoh, saat aku hanyalah tenda darurat di pinggir jalanan.

 Dia adalah puisi yang rapi, saat aku hanyalah coretan penuh tip-ex yang berantakan.


 "𝙺𝚒𝚝𝚊 𝚊𝚍𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚍𝚞𝚊 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚋𝚎𝚛𝚋𝚊𝚐𝚒 𝚛𝚊𝚑𝚊𝚜𝚒𝚊 𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚋𝚒𝚗𝚝𝚊𝚗𝚐, 𝚗𝚊𝚖𝚞𝚗 𝚔𝚒𝚗𝚒 𝚔𝚊𝚞 𝚕𝚎𝚋𝚒𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚒𝚕𝚒𝚑 𝚖𝚎𝚗𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚖𝚊𝚝𝚊𝚑𝚊𝚛𝚒 𝚋𝚊𝚐𝚒 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚕𝚊𝚒𝚗, 𝚖𝚎𝚗𝚒𝚗𝚐𝚐𝚊𝚕𝚔𝚊𝚗𝚔𝚞 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚎𝚔𝚞 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚖𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚊𝚔 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚓𝚞𝚗𝚐."



Haruskah aku marah?

Tidak. Kemarahan hanya akan membuatku terlihat semakin menyedihkan.

Aku hanya sedikit kecewa pada diriku sendiri, karena pernah mengira bahwa ketulusan saja cukup untuk membuat seseorang menetap.

Nyatanya, dunia ini tidak berjalan hanya dengan modal perasaan.

Logika butuh sandaran, dan dia memberikanmu tiang yang lebih kuat dari pundakku yang mulai rapuh.


Kapalku kini bersemayam di dasar laut yang paling dalam.

Menjadi tempat bagi ikan-ikan kecil dan terumbu karang yang tumbuh dari sisa air mataku.

Jangan khawatir, aku tidak akan memintamu kembali.

Sebab aku tahu, memintamu kembali sama saja dengan memaksamu untuk ikut tenggelam bersamaku.


Dan kau terlalu berharga untuk hancur.



Pergilah.

Jelajahi samudera baru itu dengan kapal barumu yang jauh lebih megah.

Nikmati hidangan yang lebih mewah, dan tidurlah di kabin yang lebih nyaman.

Lupakan nakhoda payah yang pernah menjanjikanmu pelangi namun malah memberimu gerimis yang tak kunjung usai.


Kau sudah menang.

Kau mendapatkan orang yang lebih dari aku.

Dan kemenanganku adalah... aku pernah menjadi bagian dari perjalananmu, sebelum akhirnya kau menemukan tujuan yang sesungguhnya.


𝗕𝗶𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻𝗹𝗮𝗵 𝗮𝗸𝘂 𝗸𝗮𝗿𝗮𝗺, 

𝗕𝗶𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻𝗹𝗮𝗵 𝗮𝗸𝘂 𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴, 

Sebab terkadang, mencintai secara luar biasa berarti harus bersedia melepaskan dengan cara yang paling rahasia.


~~~

𝔅𝔬𝔤𝔬𝔯, 9/5/26

𝕬𝖇𝖆𝖉.𝖎

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝙷𝚊𝚒, 𝙳𝚎𝚜𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛.

𝘼𝙠𝙪 𝙈𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙏𝙧𝙖𝙪𝙢𝙖𝙠𝙪

Terimakasih Desember