๐——๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ yang ๐™น๐šŠ๐šž๐š‘

 

Aku pernah percaya bahwa detak jantungmu adalah kompas yang menuntunku pulang. Di antara ribuan wajah, hanya matamu yang menjadi dermaga tempatku menyandarkan segala lelah. Kita sempat berbagi tawa yang sama, merangkai harap yang seolah takkan pernah patah oleh waktu. Namun, takdir rupanya punya selera humor yang pahit; ia membiarkan aku mencintaimu sedalam samudera, hanya untuk mengingatkanku bahwa aku tak pernah punya hak untuk memilikimu.


Dan ​kini, aku berdiri di persimpangan sunyi. Melihatmu perlahan menjauh bukan lagi sebuah ketakutan, melainkan sebuah kepastian yang harus kutelan dalam-dalam. Kamu adalah melodi indah yang hanya bisa kunikmati tanpa pernah bisa kugenggam selamanya. Ada luka yang tak berdarah saat menyadari bahwa namaku bukan lagi tujuan akhir dari perjalananmu.


Aku menyerah pada semesta. Bukan karena cintaku telah habis, tapi karena aku sadar bahwa memaksamu tinggal hanya akan membunuh binar di matamu. Kamu pantas bahagia, meski bahagia itu tak lagi ada padaku. Dengan sisa-sisa sesak di dada, aku berbisik pada angin: pergilah, carilah duniamu yang baru. Sebab kini aku paham, mencintaimu dengan begitu hebat bukan berarti harus memilikimu dengan ego. 


Kamu adalah kenangan yang paling indah, sekaligus luka yang pernah aku syukuri.


ส™แดษขแดส€. ๐Ÿท๐Ÿท/๐Ÿธ/๐Ÿธ๐Ÿผ

แด€ส™แด€แด….ษช

Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐™ท๐šŠ๐š’, ๐™ณ๐šŽ๐šœ๐šŽ๐š–๐š‹๐šŽ๐š›.

Terimakasih Desember