Surat Untuk Kehampaan


Di beranda waktu yang kian mencekam,

Aku duduk merajut sepi yang tak kunjung padam.

Duniaku bukan lagi panggung, melainkan penjara tanpa jeruji,

Di mana keadilan hanyalah kata mati di dalam kamus para petinggi.


Rumahku tak lagi beratap, dindingnya runtuh dimakan sunyi,

Keluarga yang menjadi kompas, kini lenyap ditelan bumi.

Aku memanggil nama mereka hingga tenggorokanku berdarah,

Namun hanya gema kosong yang kembali membawa lelah.

Tak ada lagi tangan yang mengusap air mataku,

Hanya angin malam yang menusuk hingga ke sumsum tulangku.


Lalu kau, pelabuhan terakhir tempatku ingin menepi,

Justru memutus tali jangkar dan membiarkanku hanyut sendiri.

Cinta yang kita rakit dengan darah dan peluh,

Kini hanyalah bangkai kenangan yang membuat batinku lumpuh.

Kau hilang di balik kabut, saat aku paling membutuhkan cahaya,

Meninggalkanku terkulai, menjadi rongsokan jiwa yang tak lagi berharga.


Lihatlah telapak tanganku yang kasar dan gemetar ini,

Hanya ada sisa debu dari ekonomi yang telah mati.

Dunia menuntutku berlari, sementara kakiku dipatahkan kemiskinan,

Aku dipaksa membeli napas dengan harga yang tak mampu kubayarkan.

Nasib mengulitiku hidup-hidup, tanpa belas kasihan,

Menjadikanku tontonan tragis di tengah pesta pora kemapanan.


Aku lelah bertarung dengan takdir yang curang,

Di mana setiap langkahku selalu berakhir di jurang.

Jika esok matahari enggan terbit untukku lagi,

Maka biarlah kegelapan ini merangkulku dengan abadi.

Sebab di dunia yang penuh kepalsuan dan ketidakadilan ini,

Satu-satunya yang setia hanyalah rasa sakit yang tak mau pergi.


π˜‰π˜°π˜¨π˜°π˜³. 150426

𝘈𝘣𝘒π˜₯.π˜ͺ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

π™·πšŠπš’, π™³πšŽπšœπšŽπš–πš‹πšŽπš›.

Terimakasih Desember