𝘼𝙠𝙪 hanya 𝚃𝚊𝚖𝚞 ᴅɪ 𝗛𝗶𝗱𝘂𝗽-𝗺𝘂


Dulu, aku adalah penghuni tetap di setiap sudut pikirmu. Aku tahu letak setiap cemasmu, hafal warna setiap mimpimu, dan punya kunci cadangan untuk setiap pintu hatimu yang sulit terbuka. Namun sekarang, segalanya telah berubah. Aku telah pindah, atau barangkali, kamu yang telah merombak seluruh isinya.


Kini, aku berdiri di ambang pintu sebagai orang luar. Aku melihatmu tertawa di balik jendela masamu yang baru, dengan dekorasi kebahagiaan yang tak lagi aku kenali. Saat kita bicara, aku merasa seperti seorang tamu yang harus menjaga sikap; bicara seperlunya, tersenyum secukupnya, dan tak boleh terlalu lama bertamu agar tidak mengganggu ketenangan tuan rumahnya yang baru.


Ada rasa sesak saat menyadari bahwa aku tak lagi punya hak untuk bertanya tentang harimu, atau sekadar membenahi letak sedihmu. Kamu sudah memiliki ruang baru yang begitu rapi, begitu asing, dan sayangnya, tidak ada lagi sudut yang disediakan untukku menetap.


Aku pamit sekarang. Terima kasih telah mengizinkanku bertamu sejenak, melihat bahwa kamu baik-baik saja sudah cukup untukku membawa pulang rasa tenang, meski harus berjalan sendirian di bawah langit yang mulai menggelap.


𝙱𝚘𝚐𝚘𝚛. 12/2/26

𝙰𝚋𝚊𝚍.𝚒

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝙷𝚊𝚒, 𝙳𝚎𝚜𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛.

𝘼𝙠𝙪 𝙈𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙏𝙧𝙖𝙪𝙢𝙖𝙠𝙪

𝗧𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴 𝗻𝗮𝗺𝘂𝗻 𝗠𝗲𝗻𝘆𝗶𝗺𝗽𝗮𝗻 𝗦𝗲𝘀𝗮𝗸