π™€π™Žπ™€π™‚π™„ π˜Ώπ™„π™‡π™π˜Όπ™ π™‰π˜Όπ™π˜Όπ™Žπ™„

 π™€π™Žπ™€π™‚𝙄 π˜Ώπ™„π™‡π™π˜Όπ™ π™‰π˜Όπ™π˜Όπ™Žπ™„

(Penyangkalan)



Barangkali... 

keberanian paling purba bukanlah perihal melawan musuh, 

melainkan tentang kesanggupan menatap mata kenyataan yang tak lagi ramah. 

Namun aku? Aku adalah pengecut yang memilih mencintai bayang-bayang. 

Sebab kenyataan hanyalah seorang algojo yang datang tanpa mengetuk pintu, 

menebas seluruh rencana kita, 

dan meninggalkanku di sebuah liang sunyi... 

yang hanya menyisakan jejak harum tubuhmu yang mulai menguap ke langit-langit sepi.




Aku menolak menguburmu dalam peti bernama "masa lalu". 

Bagiku, kau adalah "hari ini" yang kurayakan dengan keras kepala. 

Aku masih menyeduh dua cangkir kopi di atas meja kayu yang mulai lapuk... 

Masih menyisakan separuh bidang tempat tidur agar kau tak kesempitan... 

Seolah-olah kau hanya sedang mencuri waktu sebentar ke warung di ujung jalan, 

dan akan segera pulang... sebelum senja benar-benar padam ditelan malam.



Mereka bilang, menerima adalah muara dari segala luka. 

Tapi mereka tak pernah tahu... 

ada jenis perih yang lebih hangat dipeluk daripada disembuhkan. 

Aku memilih untuk tetap sakit. 

Aku memilih percaya bahwa pesanku yang tak kau balas hanyalah sinyal yang tersesat di sela bintang... 

Bukan karena hatimu yang telah membangun dermaga di pelukan orang asing.




Aku sedang menenun sebuah dunia mungil di balik tempurung kepalaku. 

Di sana... kita tak pernah terbakar habis oleh pertengkaran malam itu. 

Di sana, kata "selamat tinggal" hanyalah sebuah metafora untuk rindu yang terlalu besar. 

Aku lebih suka mendekap kebohongan yang membuatku tetap tegak... 

Daripada harus bangun di atas kebenaran yang membuat napasku terasa seperti menelan duri.



"Dia telah hilang," bisik logika, dingin dan tajam. 

Tapi dadaku... dadaku adalah sebuah medan perang yang bising. 

Ia berteriak bahwa kau hanya sedang bermain petak umpet dengan takdir. 

Kau hanya sedang mengujiku, seberapa jauh aku sanggup melangkah mencarimu. 

Maka, aku tetap mengejarmu di sela-sela wajah asing di trotoar, 

di sudut-sudut kota yang masih menyimpan sisa tawamu... 

Bahkan di dalam lirik lagu yang nadanya sudah lama kau lupakan.



Penyangkalan ini adalah rumah terakhir tempatku berteduh. 

Temboknya adalah batu karang keras kepala, 

dan atapnya adalah harapan-harapan hampa yang kupaksa agar tak runtuh. 

Jika kau menyebutku gila... biarlah. 

Bukankah cinta memang sebuah kegilaan yang diberi nama indah, 

agar manusia tak takut untuk saling menghancurkan?



Jangan ajarkan aku cara melepaskan. 

Ikhlas itu sebuah padang luas yang terlalu dingin untuk kumasuki... 

Sementara hatiku adalah ruang sempit yang dipenuhi ingatan tentangmu. 

Biarkan jaketmu tetap tergantung di balik pintu itu. 

Biarkan buku-bukumu berselimut debu di rak itu. 

Selama benda-benda itu menetap, 

aku masih bisa membohongi nuraniku sendiri... 

Bahwa kau... sebenarnya tak pernah benar-benar pergi.



Penyangkalan ini adalah cara paling suci untuk menjagamu tetap hidup. 

Sebab jika aku mengakuimu telah tiada dari hidupku... 

Maka dunia ini hanyalah sebuah panggung kosong yang tak layak kutinggali.



Maka, biarkan aku tetap menetap di sini. 

Di dalam narasi yang kutulis dengan tinta air mata. 

Di mana kita tetap abadi... 

Meski hanya dalam delusi... 

Yang paling sunyi.


π™±πš˜πšπš˜πš› 170426

π™°πš‹πšŠπšπš’



Komentar

Postingan populer dari blog ini

π™·πšŠπš’, π™³πšŽπšœπšŽπš–πš‹πšŽπš›.

Terimakasih Desember