𝙋𝙖𝙩𝙖𝙝 π™π™–π™©π™ž-𝙠π™ͺ π™—π™šπ™‘π™ͺ𝙒 𝙏π™ͺ𝙣𝙩𝙖𝙨


​Pagi ini, aku mendapati diriku masih berdiri di ambang pintu yang sama. Pintu yang dulu sering kau ketuk dengan tawa, namun kini hanya menyisakan derit sunyi yang memuakkan. Aku mencoba merapikan ruang tamu di dadaku, tempat di mana dulu kita pernah duduk berjam-jam membicarakan masa depan yang ternyata hanya sebatas wacana. Namun, setiap kali aku mencoba menyapu remah-remah kenangan itu, aku tersadar bahwa ruang hati ini sudah terlanjur retak.


Retaknya tidak rapi. Ia tidak membelah menjadi dua bagian yang simetris, melainkan hancur menjadi serpihan-serpihan kecil yang tajam. Dan bodohnya, aku masih saja mencoba memunguti pecahan itu dengan tangan kosong. Aku terluka lagi, berdarah lagi, di tempat yang sama untuk ke sekian kalinya.


​Orang-orang bilang, obat dari segala luka adalah waktu. Tapi bagiku, waktu adalah pengkhianat yang paling nyata. Ia membiarkanmu melangkah pergi dengan kaki yang ringan, sementara ia mengikat kakiku di sudut ruangan ini. Ia memaksaku menonton punggungmu yang semakin menjauh, sementara aku masih sibuk mengelem kembali harapan-harapan yang sudah kadaluwarsa.


Patah hati ini belum tuntas, Sayang. Ia belum selesai kubahasakan. Ia masih sering datang bertamu tanpa permisi, menyelinap di antara aroma kopi yang mendingin atau bersembunyi di balik lirik lagu yang tak sengaja terputar di radio. Ia betah sekali berlama-lama di sini, seolah ingin mengingatkanku bahwa mencintaimu adalah jatuh yang paling sengaja, namun kehilanganmu adalah patah yang tak pernah bisa kubenahi secepat itu.


Sekarang, aku hanya sedang belajar. Belajar untuk tetap tinggal di dalam bangunan yang separuhnya sudah runtuh. Aku membiarkan jendela-jendela hatiku tetap retak, karena setidaknya dari celah itulah aku bisa melihat bahwa di luar sana, dunia tetap berjalan meski duniaku sudah berhenti sejak kau memutuskan untuk menjadi asing.


Aku tidak sedang menunggumu pulang. Aku hanya sedang menunggu diriku sendiri benar-benar sembuh dari sisa-sisa keberadaanmu yang masih terasa begitu nyata. Sebab nyatanya, patah hati-ku memang belum tuntas, dan mungkin... ia sengaja dibiarkan begitu agar aku tidak lupa bagaimana rasanya pernah memiliki 'rumah' yang kini hanya menjadi 'singgah'.


Ⴆσɠσɾ. 15/2/26

π™°πš‹πšŠπš.πš’

Komentar

Postingan populer dari blog ini

π™·πšŠπš’, π™³πšŽπšœπšŽπš–πš‹πšŽπš›.

Terimakasih Desember