๐ ๐ฒ๐น๐ฎ๐ฟ๐๐ป๐ด ๐๐ถ๐ฟ๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐ ๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐๐ด ๐ ๐ฒ๐ป๐ผ๐น๐ฎ๐ธ ๐ฃ๐๐น๐ฎ๐ป๐ด
Ada yang lebih purba dari sekadar rindu,
yaitu kenyataan bahwa kita adalah satu aliran,
namun menghuni dua waktu yang saling membunuh.
Aku adalah hulu;
Sumbu dari segala riuh yang kau lupakan.
Tempat luka pertama kali diseduh, tempat rintik hujan berubah menjadi amuk.
Aku masih gemar merawat kedinginan,
menyusun pecahan-pecahan kenangan di sela bebatuan,
berharap arus yang kukirimkan cukup kuat untuk sekadar menyentuh tumitmu.
Aku adalah sumber dari segala napas yang terburu-buru,
yang setiap detiknya habis untuk mengejarmu, meski hanya berakhir sebagai buih.
Namun, kau adalah hilir;
Tempat segala sesuatu yang telah selesai dan melandai.
Kau tidak lagi peduli pada deras yang aku usahakan,
atau pada sedu sedan yang aku hanyutkan lewat aliran.
Bagimu, aku hanyalah masa lalu yang harus dilarung ke muara,
sedangkan bagiku, kau adalah satu-satunya tujuan yang belum habis kudoakan.
Kita adalah satu sungai, tapi dua sunyi.
Aku sibuk melawan gravitasi sepi agar tidak mati,
sementara kau telah terlalu tenang, mendekap muara yang tak lagi ada aku di dalamnya.
Bagaimana mungkin kita bisa berujung temu?
Jika setiap inci langkahku untuk mendekat,
hanyalah cara bagimu untuk semakin lancar melepaskan.
Aku di hulu, masih terbakar oleh sisa-sa yang memburu,
dan kau di hilir, telah menjadi hamparan air yang tak lagi mengenali asalnya.
Sebab pada akhirnya,
air tidak pernah punya jalan untuk pulang kembali ke puncak.
Dan aku hanyalah sumber yang perlahan mengering;
membiarkan diriku habis, demi menghidupi tenangmu yang kini bukan lagi milikku.
สแดษขแดส, ๐ธ๐ผ ๐ถ๐น ๐ธ๐ผ
๐๐ฃ๐ข๐ฅ.๐ช
Komentar
Posting Komentar