π—Ÿπ—”π—•π—œπ—₯π—œπ—‘ π—§π—”π—žπ——π—œπ—₯


Tuhan.... untuk apa kau menciptakan makhluk-mu ini mengenal akan Cintaa?! 

Jika akhirnya kau menciptakan rasa kecewa! 

Tuhan...., untuk apa kau ciptakan perasaan?! 

Bila akhirnya kau menciptakan kesakitan! 


Aku Muaaak!!. 

Aku Sakiit!!. 

AKUUU,.... 

      Gilaaaaa 

Tuhaaann.... 


Aku gilaaa akan dunia mu inii

Aku muak , karna selalu melihat makhluk²mu 

Pasrah akan cinta, 

Pedih akan rasa kecewa, 

Perih akan perasaan, 

Menggilaaa karena kesakitan. 


Tuhan.., jika kebahagiaan itu luas, 

Mengapa kau biarkan makhluk mu terlenaa?

Mengapa Kau biarkan kami meneguk manisnya madu,

Jika di dasarnya telah Kau siapkan racun yang membiru?


Kau lukis pelangi di pelupuk mata kami,

Hanya untuk Kau hapus dengan badai yang tak kunjung usai.

Apakah kami ini hanyalah panggung sandiwara-Mu?

Ataukah kami hanya butiran debu yang Kau biarkan diterjang angin semu?


Tuhan...

Lihatlah tangan-tangan yang menengadah ini.

Bukan lagi meminta harta, bukan lagi meminta tahta.

Kami hanya meminta satu:

Cabut saja akar rasa ini sampai kering! Sebab mencintai-Mu saja terkadang kami lupa,

Bagaimana bisa Kau menitipkan beban untuk mencintai sesama?


Tuhaaaan..... 

​Aku lelah menjadi manusia.

Aku lelah merasa.

Jika esok mentari menyapa,

Bolehkah aku meminta bangun tanpa nyawa?

Atau setidaknya... bangun aku tanpa mengingat Renjana. 


π™±πš˜πšπš˜πš›. 6/2/26

π™°πš‹πšŠπš.πš’


Pesan: 

Janganlah KAUU terlalu terlena saat bahagia, karena ia bisa menjadi buta. Dan janganlah Kauu terlalu mengutuk akan hal derita, karena ia adalah cara semesta mendewasakan jiwa."

#Abad.i (18.20)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

π™·πšŠπš’, π™³πšŽπšœπšŽπš–πš‹πšŽπš›.

Terimakasih Desember