𝙀𝙡𝙚𝙜𝙞 𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞𝙜𝙖 𝙎𝙮𝙖𝙬𝙖𝙡 : " 𝘗𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘨 𝙏𝙖𝙠 𝘚𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘉𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶

 𝙀𝙡𝙚𝙜𝙞 𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞𝙜𝙖 𝙎𝙮𝙖𝙬𝙖𝙡 : " 𝘗𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘨 𝙏𝙖𝙠 𝘚𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘉𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶

ʙᴏɢᴏʀ, 𝟸𝟶/𝟶𝟹/𝟸𝟼

𝓐𝓑𝓐𝓓.𝓘



Di ambang Idulfitri yang kian pucat, aku tersungkur pada takbir yang parau.

Ia tak lagi membawa kabar kemenangan, melainkan sebentuk lara yang memar.

Aku telah merapikan rindu, melipat jarak dalam koper-koper penuh tunggu,

namun mengapa, Ayah, kau justru memilih jalan pulang yang lebih dulu?


Di perantauan ini, aku sempat menyusun kalimat sungkem yang paling khidmat,

membayangkan punggung tanganmu yang kasar akan kukecup dengan lekat.

Namun di sela deru mesin yang seharusnya membawaku ke depan pagar,

kabar itu datang seperti petir yang merubuhkan seluruh tiang sabar.


"𝙿𝚊𝚔,,, 𝚙𝚞𝚝𝚛𝚒-𝚖𝚞 𝚜𝚎𝚔𝚊𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚙𝚊𝚑𝚊𝚖 𝚝𝚎𝚗𝚝𝚊𝚗𝚐 𝚞𝚌𝚊𝚙𝚊𝚗𝚖𝚞... 𝙱𝚊𝚑𝚠𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚊𝚗𝚊𝚔 𝚛𝚊𝚗𝚝𝚊𝚞 𝚒𝚝𝚞 𝚑𝚊𝚛𝚞𝚜 𝚔𝚞𝚊𝚝."


Namun hari ini, kekuatan itu hanyalah debu yang tersapu angin di pelataran makam yang pekat.

Mengapa kau terburu-buru mengetuk pintu langit sebelum aku sempat membuka pintu rumahmu?

Mengapa kau memilih beristirahat di bawah nisan, saat aku baru saja ingin mengadu?


Aku menatap kursi kayu di ruang tamu yang kini benar-benar mendingin,

di sana, 𝚑𝚊𝚗𝚢𝚊 ada sisa aroma kopi dan gema suaramu yang ditiup angin.

Dahulu, meja makan ini adalah alasan aku ingin bergegas pulang,

kini, ia hanyalah sebuah altar sunyi tempat duka ini mengerang.


Maafkan aku, yang terlambat selangkah dari takdir yang kau jalani,

saat "Selamat Hari Raya" kini hanya bisa kuucapkan pada tanah yang sunyi.

Sebab di sini, Idulfitri hanyalah sebuah elegi yang tak kunjung usai,

tanpa pelukmu yang hangat, tanpa doa yang biasanya kau untai.


Biarlah sisa hidupku kuhabiskan dengan merawat nisanmu sebagai satu-satunya dermaga,

tempat rinduku berlabuh meski tak lagi ada suara yang menyapa.

Sebab mencintaimu dalam ketiadaan adalah ibadah yang paling tabah,

di bawah langit hari raya yang kini kehilangan cahayanya, pasrah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝙷𝚊𝚒, 𝙳𝚎𝚜𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛.

𝘼𝙠𝙪 𝙈𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙏𝙧𝙖𝙪𝙢𝙖𝙠𝙪

Terimakasih Desember