๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜“๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ต, ๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜™๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜”๐˜ถ

 

Aku sering mengira bahwa doa adalah satu-satunya kurir yang paling bisa dipercaya.

Bahwa saat keningku menyentuh sajadah dan namamu meluncur begitu lancar,

semua urusan di dunia akan selesai dengan sendirinya.

Aku percaya pada kalimat: “Jika sudah takdirnya, ia akan mendekat.”

Dan benar saja, semesta seolah-olah sedang berkonspirasi untuk kita.

Jalanan yang dulu buntu, tiba-tiba terbuka.

Restu orang tua yang dulu kaku, tiba-tiba mencair seperti es di bawah terik.

Tuhan sudah meletakkan pena-Nya, membiarkan tinta takdir itu menuliskan nama kita di lembar yang sama.



Tapi di sinilah letak patah hati yang paling lucu.

Tuhan sudah mengangguk, namun kamu justru sibuk menggelengkan kepala.

Tuhan sudah merestukan, tapi kamu justru sibuk mencari alasan untuk menghindar.



Kamu ini sebenarnya sedang lari dari siapa?

Lari dariku, atau lari dari kebahagiaan yang selama ini kamu minta di dalam sujudmu juga?

Aku tidak mengerti bagaimana logikamu bekerja.

Kamu meminta petunjuk, dan saat petunjuk itu adalah aku, kamu malah ketakutan seolah aku adalah bencana.

Kamu meminta dikuatkan, dan saat aku datang membawa pundak, kamu malah memilih untuk rebah di atas duri-duri yang kamu buat sendiri.



Bagaimana aku harus bersikap di hadapan Pencipta kita nanti?

Haruskah aku mengadu bahwa doa-doaku sudah sampai ke Arsy,

namun terhenti di depan pintu rumahmu karena kamu menguncinya dari dalam?

Haruskah aku bilang bahwa restu dari langit terasa tidak berguna,

karena orang yang kuperjuangkan justru lebih memilih untuk menjadi asing daripada menjadi usai?



Melihatmu menghindar itu lebih sakit daripada melihatmu ditolak.

Sebab, jika kita ditolak semesta, aku bisa menyalahkan takdir.

Tapi jika kita sudah direstui semesta namun kamu tetap pergi,

maka aku hanya bisa menyalahkan satu hal: Ketulusanku yang ternyata tidak pernah cukup untuk membuatmu merasa aman.



Kamu seperti seseorang yang haus di tengah padang pasir.

Lalu Tuhan menurunkan hujan yang begitu deras tepat di atas kepalamu.

Bukannya membuka mulut untuk minum, kamu malah mengeluarkan payung,

bersembunyi di baliknya, lalu mengeluh bahwa dunia ini terlalu basah dan melelahkan.



Silakan, teruslah berlari.

Habiskan sisa napasmu untuk menjauh dari pintu yang sudah dibukakan Tuhan untukmu.

Aku tidak akan mengejar lagi.

Sebab aku baru sadar, doa sehebat apa pun tidak akan bisa mengetuk hati yang memang sudah mati rasa sebelum mencoba.

Biarlah restu ini menguap menjadi awan,

menjadi saksi bahwa aku pernah begitu mencintaimu sampai-sampai aku membuat Tuhan setuju,

meskipun kamu tetap memilih untuk tidak mau tahu.



"Tuhan sudah menyatukan jalan kita, tapi kamu memilih untuk melompati pagar dan tersesat di hutan yang lain. Sekarang aku paham, restu Tuhan memang mutlak, tapi memaksa seseorang yang ingin pergi adalah bentuk penghinaan terhadap diri sendiri."



bogor, 2/2/26

abad.i

Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐™ท๐šŠ๐š’, ๐™ณ๐šŽ๐šœ๐šŽ๐š–๐š‹๐šŽ๐š›.

Terimakasih Desember