Seandainya Aku bisa memilih
Seandainya di hari itu Tuhan memberiku sebuah tombol,
aku akan memilih untuk tidak menekan apa-apa.
Aku lebih baik membiarkan jarum jam patah,
daripada harus melihat matamu dan merasa seolah-olah
seluruh duniaku baru saja menemukan pusatnya.
Jikalau aku bisa memilih,
aku ingin kita tetap menjadi dua orang yang antre di halte berbeda.
Dua orang yang tidak sengaja bersenggolan di keramaian,
lalu hanya saling gumam kata "maaf" tanpa perlu bertanya nama,
apalagi mencoba membedah isi kepala.
Sebab, mengenalmu ternyata adalah cara paling sunyi
untuk menghancurkan diriku sendiri.
Dulu, aku mengira namamu adalah doa.
Namun ternyata, ia hanyalah mantra yang mengikatku
pada ingatan-ingatan yang tak kunjung padam.
Aku lelah harus menghafal caramu tertawa,
hanya untuk menyadari bahwa tawa itu kini bukan lagi milikku.
Lebih baik aku tidak tahu,
bagaimana rasanya disayangi olehmu.
Karena tanpa rasa itu, aku tidak akan pernah tahu
seberapa perihnya rasa kehilangan yang sehebat ini.
Aku tidak perlu terjaga di jam tiga pagi,
menghitung sisa-sisa percakapan yang makin hari makin basi,
seperti ampas kopi yang lupa kubuang dari cangkir hati.
Sekarang, setiap sudut kota ini terasa seperti museum kenangan.
Ada bayangmu di tiap bangku taman,
ada suaramu di setiap lagu yang tak sengaja terdengar.
Sungguh, jika aku punya kuasa atas takdir,
aku lebih memilih menjadi buta sejak awal,
daripada harus melihatmu perlahan-lahan menjauh
setelah sempat membuatku merasa begitu utuh.
"Mengenalmu adalah kesalahan paling indah yang pernah kulakukan, tapi andai bisa kuulang, aku lebih memilih untuk tetap menjadi asing bagi duniamu."
Kini, aku hanya bisa terduduk diam.
Menatapi punggungmu yang kian samar,
sambil merapalkan tanya yang tak mungkin terjawab:
Kenapa kita harus saling menemukan, jika pada akhirnya hanya untuk saling melupakan?
bogor, 27/01/26
Abad.i
Komentar
Posting Komentar