Mungkin, Kita hanya sebatas "Mungkin.

 Hai, Puan.

Bagaimana rasanya menjadi orang yang paling diingat...

oleh seseorang yang paling ingin kau lupakan?


Mungkin benar kata mereka,

mencintai itu perkara menanam, tapi kehilangan...

adalah cara paksa semesta untuk menyuruh kita memanen rontoknya dedaunan.

Dan hari ini, aku adalah pohon yang gundul itu, Puan.

Yang tetap berdiri tegak, meski tak lagi punya alasan untuk terlihat indah... di matamu.


Puan...

Aku pernah menjadi orang yang paling kau tuju saat duniamu runtuh.

Aku pernah menjadi satu-satunya peluk yang kau cari saat kau merasa peluh.

Tapi lihatlah sekarang.

Kita hanyalah dua orang yang saling tahu nama,

tapi pura-pura lupa cara menyapa.


Lucu, ya?

Ternyata jarak yang paling jauh itu bukan soal kilometer.

Tapi saat aku duduk tepat di hadapanmu,

dan aku sadar bahwa hatimu sudah tidak lagi di sana.

Hatimu sudah pergi...

jauh sebelum kakimu melangkah keluar dari pintu itu.



Mungkin, kau adalah doa yang dikabulkan Tuhan,

bukan untuk aku miliki,

tapi untuk mengajariku bagaimana cara melepaskan tanpa harus membenci.

Kau adalah patah hati paling rapi... yang pernah aku alami.


Jadi, hai Puan...

Jika suatu saat nanti namaku melintas di kepalamu,

tolong jangan merasa bersalah.

Sebab bagiku, pernah mengenalmu adalah luka yang paling aku syukuri.


Tetaplah berjalan, Puan.

Jangan menoleh.

Sebab aku sedang sibuk melipat semua kenangan ini,

agar tak ada lagi bagian darimu yang tertinggal...

di jemariku... yang kini sepi.


---

bogor 15/01/2026

Abad.i

Komentar

Postingan populer dari blog ini

π™·πšŠπš’, π™³πšŽπšœπšŽπš–πš‹πšŽπš›.

Terimakasih Desember