Memanen Kebun di Luka-ku

Lihat kebunku...
Kini hanya berisi sisa-sisa percakapan yang tak sempat usai.
Aku pernah menjadi orang paling rajin yang merawat tumbuhmu,
menjaga tiap jengkal perasaan agar tetap mekar,
meski aku tahu, matahari di matamu bukan lagi milikku.


Setiap hari...
Aku belajar bahwa mengenalmu adalah sebuah keberanian.
Keberanian untuk siap hancur, keberanian untuk siap dilupakan.
Terima kasih, ya?
Karena sudah mengizinkanku mampir sebentar,
mencicipi bagaimana rasanya diperjuangkan lalu dibuang tanpa alasan.


Semuanya indah...
Dulu, namamu adalah doa yang paling rajin kupanjat.
Mawar merah itu adalah caramu memikatku,
dan putih melati itu adalah caraku memaafkan semua egomu.
Tapi kini aku paham,
bahwa keindahan yang kau tawarkan hanyalah sekadar pajangan,
bukan sesuatu yang ingin kau jaga selamanya dalam pelukan.


Mawar, melati, semuanya...
Semua orang kini tahu betapa hancurnya aku setelah mengenalmu.
Ternyata, mencintaimu adalah cara tercepat untuk kehilangan diriku sendiri.
Aku mengenalmu sebagai "Rumah",
namun kau mengenalku hanya sebagai "Tempat Singgah".


Terima kasih, sudah membuatku sadar;
bahwa tidak semua yang mekar harus dipetik,
dan tidak semua yang datang harus dimiliki.


​Aku sudah cukup mengenalmu sekarang.
Mengenal bagaimana caramu berbohong dengan tatapan,
mengenal bagaimana caramu pergi di saat aku paling butuh pegangan.
Terima kasih sudah pernah ada,
setidaknya kini aku tahu, bagian mana dari diriku yang harus kusembuhkan lebih dulu.




Selesai.
Benar-benar selesai. 


Bogor, 29/01/26
Abad.i 

catatan  :
Aku lupa,
  Bahwa bunga tidak akan mekar ditangan seseorang yang lebih suka memetik daripada menanam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

π™·πšŠπš’, π™³πšŽπšœπšŽπš–πš‹πšŽπš›.

Terimakasih Desember