aku, Bukan yang Dia inginkan.

 Ada sebuah titik di mana kita harus berhenti bertanya... "kenapa?"  

dan mulai belajar untuk menerima... "oh, begini akhirnya."


Aku pernah menjadi orang yang paling percaya diri... 

Bahwa dengan ketulusan yang luar biasa, aku bisa mengubah "biasa saja" menjadi "luar biasa" di matamu.


Aku berpikir, jika aku terus ada, jika aku terus memberi,

kamu akan menoleh dan menyadari... kalau akulah yang kamu cari.

Tapi nyatanya... aku salah,

Benar-benar salah.



Aku sudah belajar menyukai apa yang kamu suka.

Aku sudah mencoba memahami jalan pikiranmu yang sulit ditebak.

Bahkan, aku seringkali melupakan lukaku sendiri... hanya untuk memastikan kamu tidak merasa sakit sendirian.


Aku menjadi orang pertama yang ada saat duniamu runtuh.

Tapi saat duniamu kembali teguh... aku menjadi orang pertama yang kamu lupakan.


Lucu, bukan?

Aku sibuk memperbaiki pintumu yang rusak, supaya orang lain bisa masuk dengan nyaman ke dalam hatimu.

Sedangkan aku? 

Aku tetap di luar... kedinginan... tanpa pernah dipersilakan masuk.



Malam ini, aku tidak lagi ingin menyalahkanmu.

Memaksamu mencintaiku sama saja dengan meminta hujan jatuh ke atas... itu mustahil.

Perasaan tidak bisa dinegosiasikan.


Dan sayang sekali... namaku tidak ada dalam daftar bahagia yang kamu susun.


Aku mungkin orang yang paling mengerti kamu...

Tapi aku... tetap bukan orang yang kamu inginkan.


Bukan karena aku kurang baik.

Bukan karena aku kurang berjuang.

Hanya saja... kamu tidak melihat "pulang" saat menatap mataku.


Jadi, pergilah.

Cari dia yang kamu inginkan.

Dan biarkan aku belajar... 

untuk tidak lagi menjadi orang yang selalu ada...

untuk seseorang yang menganggapku tidak pernah ada.


Selamat tinggal.

Dan... terima kasih... sudah memberi tahu secara tidak langsung,

bahwa aku memang tidak pernah punya tempat di hatimu.



BOGOR, 14/01/2026

Abad.i


Komentar

Postingan populer dari blog ini

π™·πšŠπš’, π™³πšŽπšœπšŽπš–πš‹πšŽπš›.

Terimakasih Desember