Rindu yang tertahan

 ๐š๐š’๐š—๐š๐šž ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐šƒ๐šŽ๐š›๐š๐šŠ๐š‘๐šŠ๐š—

๐™บ๐šŠ๐š›๐šข๐šŠ: ๐šŠ๐š‹๐šŠ๐š.๐š’


Di antara riuh sunyi malam yang menutup cakrawala, rindu ini berbisik lirih di antara helai angin yang berkelana. Ia merambat sehalus embun, menempel di daun-daun yang lelah menunggu fajar menyentuh.


Wajahmu terlukis samar dalam arus awan yang melintas pelan, seolah bumi pun tahu betapa dalam getar hati ini. Namun rindu itu memilih diam; tak berani menerjang badai yang memisah kita.


Seperti hujan yang enggan turun, hanya mengguyur kenangan dalam jiwa, rindu terkunci rapat dalam gerimis tak bersuara. Ia tersimpan di balik kelopak mata yang tak sempat bertemu, dalam tarian bayangmu yang tak kunjung singgah.


Dalam setiap desir angin yang melambai di ladang rerumputan, terdengar suara hatiku yang menunggu. Betapa rinduku adalah daun gugur yang terus berjatuhan, meski musim telah berganti, dan kesunyian tetap setia menemani.


Langit yang luas pun menjadi saksi betapa setiap hela napas adalah harap yang tertahan, menanti secercah cahaya yang menembus kabut antara kita. Dalam hening ini, rindu adalah bunga liar yang mekar tapi tak berani harum di dekatmu.


Namun, meski tersisa jarak, dan waktu memisahkan raga kita, rindu ini tetap hidup, tertahan tapi tak pernah pudar. Ia adalah aliran sungai yang sabar menunggu, arusnya tak pernah lelah mengalir menuju muara jumpa.


Maka biarkan senja menggulung perahumu dan malam menjaga kerahasiaan rindu ini, hingga suatu ketika angin membawa bisikanku padamu, dan rindu tercurah tanpa tertahan lagi.


๐˜“๐˜ข๐˜ถ๐˜ต๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ, ๐Ÿบ-แดแด‡ษช-๐Ÿธ๐Ÿถ๐Ÿธ๐Ÿป

แด€ส™แด€แด….ษช

Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐™ท๐šŠ๐š’, ๐™ณ๐šŽ๐šœ๐šŽ๐š–๐š‹๐šŽ๐š›.

Terimakasih Desember