Gerbong Belakang
**Gerbong Belakang**
Di rel kehidupan yang berkelok,
Kita adalah penumpang dalam gerbong waktu,
Menyusuri lanskap kenangan,
Di mana setiap detik adalah butir pasir,
Yang terhampar di pantai jiwa.
Jaga ragamu, baik-baik ya
Seperti embun pagi yang menempel lembut,
Pada daun-daun hijau,
Hiduplah dalam keindahan,
Jangan biarkan badai masa lalu menggerogoti.
Kenangan indah,
Seperti cahaya rembulan yang menari di permukaan danau,
Menggugah rasa,
Membawa kita kembali ke pelukan hangat,
Di mana tawa dan canda bersemi.
Namun, di gerbong belakang,
Ada bayang-bayang kelam,
Kenangan buruk yang mengintai,
Seperti awan gelap yang mengancam,
Menyelimuti sinar mentari.
Buanglah, buanglah semua beban itu,
Seperti daun kering yang terhempas angin,
Biarkan mereka pergi,
Menjadi debu yang tak lagi mengikat,
Agar jiwa kita bisa terbang bebas.
Hey kamu, ingatlah
Setiap perjalanan memiliki tujuan,
Dan kita adalah arsitek dari kisah kita,
Jaga ragamu, jaga hatimu,
Agar bisa menari di antara bintang-bintang.
Di gerbong belakang,
Hanya ada kenangan yang tersisa,
Tapi di depan,
Ada harapan yang menanti,
Seperti pelangi setelah hujan,
Menawarkan keindahan baru,
Yang siap kita sambut dengan tangan terbuka. Di antara rel yang bergetar,
Kita melangkah, menapaki jejak yang tak terhapus,
Setiap langkah adalah lagu,
Mengalun lembut di telinga semesta,
Menggugah rasa yang terpendam.
Sekali lagi Jaga ragamu, ya
Seperti pohon yang kokoh di tengah badai,
Akar yang dalam menembus tanah,
Menjaga agar tak terjatuh,
Di tengah guncangan yang tak terduga.
Kenangan indah,
Seperti bunga yang mekar di musim semi,
Menghiasi jalanan dengan warna-warni,
Membawa aroma manis yang mengingatkan,
Pada saat-saat penuh cinta dan tawa.
Namun, di sudut gelap,
Ada serpihan masa lalu yang menyakitkan,
Seperti bayangan yang tak mau pergi,
Menghantui langkah kita,
Membuat kita ragu untuk melangkah maju.
Buanglah semua yang tak perlu,
Seperti embun yang menguap saat mentari terbit,
Biarkan semua kesedihan menghilang,
Menjadi angin yang berbisik lembut,
Membawa pesan harapan baru.
Hey kamu, ingat lah
Setiap detik adalah anugerah,
Kita adalah penulis cerita kita sendiri,
Jaga ragamu, jaga hatimu,
Agar bisa melukis langit dengan impian.
Di gerbong belakang,
Hanya ada kenangan yang terukir,
Tapi di depan,
Ada jalan yang terbentang,
Seperti matahari terbit di ufuk timur,
Menawarkan hari baru yang penuh kemungkinan,
Siap untuk kita jelajahi bersama.
𝘚𝘵𝘢𝘴𝘪𝘶𝘯𝘬𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝟼, ᴍᴇɪ, 𝟸𝟶𝟸𝟻
ᴀʙᴀᴅ.ɪ
Komentar
Posting Komentar