Darah Di Ujung Surga

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Di ujung timur, surga pernah tersemat,

Kini darah menetes, di atas tanah keramat.

Bukan lagi kidung gembira, tapi isak yang tersayat,

Dari rakyat Papua terpencil, yang jiwanya sekarat.


Mata bocah pedalaman, tak lagi memantul bintang,

Hanya hampa menganga, di antara mimpi yang terpenggal datang.

Susu ibu tak lagi manis, bercampur racun dari limbah tambang,

Generasi tumbuh ringkih, dalam dekapan nestapa yang membentang.


Hutan adat, tempat roh leluhur bersemayam,

Kini gundul menangis, digilas roda-roda kejam.

Pohon adalah nisan, sungai adalah air mata muram,

Tanah subur jadi kuburan, harapan terkubur paling dalam.


Siapa peduli jerit mereka, dari balik bukit yang terjal?

Saat emas dikeruk paksa, menyisakan lubang nestapa yang kekal.

Janji manis pembangunan, hanya ilusi yang membual,

Menyisakan luka menganga, dan duka yang takkan pernah tanggal.


Noken kosong tak berisi, sagu pun kian sulit dicari,

Perut lapar melilit perih, sementara di istana orang berdansa-dansa.

Penyakit datang tanpa ampun, menggerogoti tubuh yang tak lagi berdaya diri,

Kematian adalah kawan akrab, di negeri yang katanya kaya tak terperi.


Otonomi hanya selubung, dusta yang terucap lancar dari lidah tak bermoral,

Untuk menutupi perampasan, dan genosida budaya yang brutal.

Mereka ingin bicara, tapi suara dibungkam paksa, dianggap radikal,

Hanya tersisa tatapan kosong, dan hati yang hancur berkeping-keping, remuk redam serta fatal.


Tulang-belulang berserak, di tanah yang dulu permai,

Kisah pilu anak Papua, terukir dalam sunyi yang memabukkan nan lalai.

Bukan pembangunan yang tiba, tapi peti mati yang berbaris, berderai,

Mengantar jiwa-jiwa tak berdosa, ke peristirahatan terakhir yang tak pernah damai.


Inikah Indonesia? Inikah saudara?

Saat air mata darah mengalir, di surga yang tak lagi punya suara.

Pedihnya tak terperi, hanya batu nisan tanpa nama, jadi saksi bisu selamanya.


ʙᴏɢᴏʀ, 𝟸4/𝟶𝟻/𝟸𝟶𝟸𝟻

ᴀʙᴀᴅ.ɪ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝙷𝚊𝚒, 𝙳𝚎𝚜𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛.

Terimakasih Desember