Sketsa Busuk Negeri Terkutuk

________________________________________________

Lupakan kanvas indah, ini coretan arang di atas borok!

Ilustrasi Nusantara? Lebih tepatnya sketsa busuk yang meroyak.

Warna bukan lagi pelangi, tapi hitam pekatnya kerak,

Dari keserakahan yang tak henti, menusuk hingga ke benak.


Para pelukisnya? Bertopeng negarawan, berhati serigala lapar,

Kuasnya mencuri, paletnya berisi dusta dan janji yang hambar.

Setiap garisnya demi kantong pribadi, rakyat hanya tumbal terbakar,

Kemakmuran? Dongeng usang bagi mereka yang tidurnya di jalanan terkapar.


Lihatlah! Istana berdiri megah, di atas gubuk-gubuk yang hampir rebah,

Perut buncit penguasa, kontras dengan ringkikan lapar yang memilukan parah.


Hukum? Komoditas dagangan, siapa yang bayar, dia yang menang dengan gagah,

Keadilan jadi barang antik, dipajang di museum kebohongan yang berlimpah.

Hutan diratakan, gunung dikeruk, laut dicekik limbah beracun,

Atas nama pembangunan, atas nama investasi, nyawa alam jadi umpan dan racun.

Sumber daya dikuras habis, hasilnya mengalir ke rekening segelintir bajingan tengik,

Sementara anak negeri mengais sisa, memungut mimpi di antara sampah yang menjijikkan.


Pancasila? Cuma ukiran di dinding kantor, jadi mantra kosong tanpa makna,

Bhinneka? Slogan basi di tengah api SARA yang sengaja ditiupkan, membakar sukma.

Persatuan hanya ilusi, saat sekat kebencian dibangun kokoh oleh narasi durjana,

Moralitas diobral murah, etika jadi barang langka, ditukar dengan secuil kuasa dan harta.


Pendidikan jadi bisnis, kesehatan jadi privilese bagi yang berduit,

Yang miskin silakan mati, yang bodoh biarkan terjerit.

Agama diperalat, ayat-ayat dipelintir demi syahwat politik yang menjepit,

Nalar kritis dibungkam, suara sumbang dianggap penyakit.


Inilah ilustrasi paling jujur, meski pahitnya merobek nurani,

Sebuah mahakarya kehancuran, ditandatangani oleh keserakahan dan tirani.

Negeri yang katanya kaya raya, nyatanya rakyatnya hidup dalam ironi,

Dijajah oleh bangsanya sendiri, diperbudak oleh nafsu yang tak pernah henti.


Jadi, nikmatilah sketsa busuk ini, wahai para pewaris kehancuran,

Sampai kapan kau biarkan para bedebah merusak tanpa perlawanan?

Atau kita memang ditakdirkan jadi abu, dalam lukisan negeri yang remuk redam, terkutuk dan terlupakan?


ʙᴏɢᴏʀ, 𝟸𝟻/𝟶𝟻/𝟸𝟶𝟸𝟻

ᴀʙᴀᴅ.ɪ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝙷𝚊𝚒, 𝙳𝚎𝚜𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛.

Terimakasih Desember